Oleh: trieelangsutajaya2008 | Agustus 5, 2008

Pramuka Agustusan, Masihkah?

oleh: Trimo (Dosen FIP IKIP PGRI Semarang)

Hari ini 14 Agustus, seluruh anggota gerakan Pramuka memperingati Hari Ulang Tahunnya ke-40. Di usiannya yang masih produktif, gerakan Pramuka dewasa ini menghadapi tantangan yang begitu komplek. Era informasi dan globalisasi yang dibarengi reformasi telah melanda di berbagai bidang kehidupan dan berdampak terhadap generasi muda. Kondisi bangsa yang tidak menentu menjadikan nuansa dekadensi moral menjadi rentan sekali terhadap berbagai perilaku agresi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Menyadari adanya hal tersebut, pemerintah bersama masyarakat perlu “cancut taliwanda” bergerak cepat dengan segala kemampuan memadamkan api dekadensi moral menjadi api kebangkitan, diantaranya melalui berbagai organisasi massa seperti Karang Taruna, Olah raga, kesenian. PMR, pramuka, dan lain-lain. Dari sekian banyak organisasi, hanya pramukalah yang dapat menampung dan menyediakan tempat bagi masyarakat secara luas.

Mereka yang berumur 7-10 tahun dibina dalam pramuka siaga, 11-15 tahun di Pramuka penggalang, 16-20 tahun mengikuti pramuka penegak, 21-25 tahun termasuk golongan pramuka pandega dan 25 tahun ke atas termasuk golongan pramuka pembina. Selain itu gerakan pramuka juga membina pramuka luar biasa, Gugus depan di berbagai instansi pemerintah, satuan karya, Gugus Depan perwakilan RI di luar negeri dan menyediakan tempat bagi mereka yang telah berusia senja dalam Pandu Wreda dan Hiprada. Dengan kemampuan dan kekuatan merata, mampukah gerakan pramuka menjadi payung penyelamat generasi muda dan sekaligus menjawab tantangan dekadensi moral, Lalu bagaimana dengan kesiapan pramuka baik kuantitas maupun kualitasnya?

Obor Blarak

Tak perlu diragukan lagi, gerakan pramuka mempunyai tugas pokok menumbuhkan tunas-tunas bangsa agar menjadi generasi muda yang berkekuatan batin, berpancasila, berwatak luhur, cerdas, terampil, kuat dan sehat serta mampu menyelenggarakan pembangunan. Tugas pokok yang amat berat tadi, agaknya masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan generasi muda. Ada semacam anggapan, mengikui pramuka adalah kampungan dan tidak “ngetrend” sehingga pencapaian tugas pokok gerakan pramuka tersendat-sendat karena kurangnya dukungan dari generasi muda. Mengapa generasi muda seperti antipati terhadap Pramuka?

Dalam konteks yang aplikatif, ada beberapa alasan kurangnya minat dan perhatian generasi muda (peserta didik di bangku sekolah) terhadap gerakan pramuka yaitu: pertama, kurangnya pengembangan materi kepramukaan yang berdampak adanya istilah pramuka “obor blarak” dalam artian keikutsertaan dalam kegiatan pramuka hanya tahap awal saja. Biasanya latihan pertama peserta didiknya masih banyak, akan tetapi lambat-laun berkurang. Jika Gugus Depan/sekolah yang bersangkutan menyelenggarakan kegiatan perkemahan, hampir seluruh peserta didik yang tadinya pasif kegiatan menjadi aktif mendadak.

Kedua, kebanyakan pembina pramuka di suatu gugus depan baik siaga, penggalang, penegak/pandega kurang aktif membina. Mereka (pembina-red) merasa lebih enak menyerahkan pembinaanya kepada pembina dari luar atau kalau ditingkat SLTA lebih banyak dibina peserta didiknya yang dianggap mampu, sering disebut senior. Hal seperti ini dapat menimbulkan rasa enggan dan malas Karena kurang adanya pengawasan.

Ketiga, disamping sikap antipati generasi muda, gerakan pramuka juga menghadapi kendala dalam hal kuantitas sehubungan adanya realitas semu dalam arti adanya ketidaksesuaian antara data anggota gerakan pramuka yang berada ditiap-tiap Kwartir dengan kenyataan yang ada di lapangan. Sebagai contoh, Gugus depan A menurut data di Kwartir Ranting anggota pramuka penegaknya 300 orang, tetapi dalam latihan pramuka yang berangkat tidak ada separonya. Realitas semu seperti inilah kadang bisa menimbulkan adanya kuantitas tanpa kualitas.

Keempat, adanya kesan ”pramuka agustusan” atau “pramuka musiman”. Kebanyakan masyarakat awam berasumsi begitu karena mereka mengetahui kegiatan-kegiatan kepramukaan ketika bulan Agustus, selain bulan itu hampir tidak pernah mendengar dan melihat aktivitas pramuka.

Kompetensi Pembina

Kendala yang begitu komplek tadi merupakan bahan ujian bagi gerakan pramuka, sejauh mana grakan pramuka mempersiapkan seperangkat antisipasi guna menetralisir keadaan. Kendala tersebut memang betul-betul ada di lapangan sehingga perlu sikap lapang dada dan kesadaran akan berbagai kekurangan guna peningkatan baik dari segi kuantitas dan kualitas.

Menurut hemat penulis, gerakan pramua perlu berbenah diri agar tidak baik luarnya saja tetapi juga baik dalam dirinya. Pramuka “obor blarak” tidak boleh terjadi. Antisipasi yang tepat adalah perlu adanya keikutsertaan guru dalam proses pembinaan guna mendukung keaktifan anak sebab secara rasional anak akan “pakewuh” jika tidak berangkat latihan. Selain itu pembina perlu memperbanyak kegiatan di lapangan, wide game, penjelajahan lingkungan sekitar, dan berkemah sehingga peserta didik tidak jenuh dan menghilangkan kesan bahwa pramuka itu bisanya tepuk-tepuk saja.

Mengacu pada Sistem among Ki Hajar Dewantara, semakin anak dewasa pembinaanya lebih banyak tut wuri handayani, akan tetapi barangkali pembina lupa bahwa untuk membina diperlukan seperangkat kompetensi baik personal maupum profesional. Kompetensi personal meliputi kesiapan diri seorang pembina baik materi maupun mental. Secara materi seorang penegak yang diberi tanggung jawab membina pramuka baik siaga, penggalang maupun penegak, sudah barang tentu menguasai materi tetapi secara mental masih perlu penataan terutama dalam hal emosi yang grafiknya masih cenderung naik dan sama dengan yang dibina.

Kompetensi professional menyangkut syarat formal seorang pembina pramuka, di mana harus melalui suatu pendidikan dari Kursus Mahir Dasar (KMD), Kursus Mahir Lanjutan (KML), Kursus Pelatih Dasar (KPD) dan Kursus Pelatih Lanjutan (KPL). Sudah barang tentu seorang pembina yang belum melalui pendidikan, tidaklah lengkap dalam pembinaanya. Oleh karena itu bagi pembina yang sudah melalui pendidikan agar aktif membina dan selalu mendampingi pembantu pembina bila menyampaikan materi agar tidak terjadi penyimpangan, serta sesuai dengan Prinsip-prinsip Dasar Metodik Pendidikan Kepramukaan (PDMPK).

Pemantauan dari Kwartir baik tingkat ranting sampai tingkat nasional terhadap agenda kegiatan dan data anggota pramuka sangat di[erlukan sehingga realitas semu dapat ditekan sekecil mungkin. Apalagi gerakan pramuka mendapat dukungan dari segenap unsur pemerintah lantaran secara ex officio/otomatis dari Kepala Desa, Camat, Bupati/Walikota, Gubernur, Menteri-menteri sampai dengan Presiden merupakan majelis pembimbing Pramuka di Kwartirnya, sehingga memudahkan pemantauan, diantaranya dengan adanya lomba antar Kwartir.

Memasyarakatkan pramuka dan mempramukakan masyarakat merupakan hal yang cukup signifikan sebagai wahana penataan dan pengembangan sumber daya manusia. Keberadaan Satuan Karya di hampir seluruh dimensi kehidupan merupakan wujud nyata peran serta pramuka dalam memberikan setitik bakti untuk negeri Indonesia tercinta.

Pluralitas Kegiatan

Untuk mencapai suatu kondisi ideal di mana peran serta pramuka dapat efektif maka kualitas pembina pramuka perlu ditingkatkan, diantaranya melalui berbagai penataran dan loka karya pembina (Pentaloka), kursus-kursus, karang pamiran yang merupakan pertemuan besar bagi para pembina guna mendapatkan masukan teknik-teknik membina yang menarik mengandung pendidikan. Pluralitas kegiatan perlu dikembang tingkatkan seperti kegiatan teknologi tepat guna, PBB dengan kolone tongkat, kreatifitas menyampaikan semapore dan morse, pioneering, berbagai lagu dan permainan serta teknik penyelenggaraan kegiatan di lapangan seperti berkemah, penjelajahan, pengembaraan, dan lain-lain.

Sebelum bergulirnya perjalanan bangsa yang tidak menentu, Gerakan Pramuka pernah mencanakan Sapta Karsa Utama Gerakan Pramuka yang merupakan paradigma baru mengenai postur Gerakan Pramuka Tahun 2000 dengan segala upaya peningkatan kuantitas dan kualitas. Kuantitas diharapkan pada tahun 2000 gerakan pramuka minimal beranggotakan 10 % dari jumlah penduduk seumur, sedangkan kualitas diharapkan seluruh anggota gerakan pramuka berupaya belajar dan membekali diri agar dapat membangun diri sendiri serta mampu menyelenggarakan pembangunan bangsa dan negara.

Namun dalam perjalanan, kendala reformasi menghadang paradigma tersebut sehingga. Postur Gerakan Pramuka Tahun 2000, tidak dapat terwujud seperti harapan semula. Oleh karena itu, suasana yang secara evolusif sudah menunjukkan titik terang ini, Gerakan Pramuka diharapkan mampu memacu semangat anggotanya, terutama generasi muda sebagai penerima dan pelanjut estafet kepemimpinan bangsa. Apalagi bergulirnya otonomi daerah memberikan peluang dan tantangan terhadap kemampuan pramuka untuk mandiri.

Dalam terminology umum, para pembina pramuka perlu berupaya mengaktualisasikan seluruh kompetensinya sehingga mampu menjadikan pramuka sebagai payung lebar yang damai, tahan hujan, badai dan panas, kemudian berjalan perlahan-lahan mendekati, mengajak dan merangkul generasi muda dengan tangannya yang damai agar mereka tidak terdekadensi moralnya dan menemukan kedamaian, seperti ditulis Boden Powell dalam bukunya Scouting For Boy: “Memandulah terus, suatu saat akan kau temukan sesuatu yang indah dan damai.”

Untuk itu gerakan pramuka berharap kepada seluruh generasi muda, ikutlah kegiatan pramuka! Kepada seluruh anggota gerakan pramuka agar melakukan intropeksi dan retropeksi agar dikemudian hari gerakan pramuka dapat meningkat baik segi kuantitas maupun kualitasnya. Semoga di HUT Pramuka ke-40 ini, Gerakan Pramuka bertambah dewasa sehingga tidak akan istilah “pramuka obor blarak” yang hanya menyala sebentar kemudian mati, tidak ada ungkapan pramuka Agustusan yang hanya terlihat aktivitasnya setiap bulan Agustus, dan tidak akan ada anggota pramuka yang “aras-arasen”. Semua “saeiyeg saeka kapti, sengkut gumregut” bersatu bersama-sama meletakkan landasan yang kuat sebagai titik tolak Pramuka dalam membina generasi muda.

Dirghayu pramuka! Galang dan rapatkan barisanmu! Semaikan tunas-tunas muda bangsamu! Negeri ini menanti setitik baktimu! Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku!

(Dimuat di Harian Radar Semarang 14 Agustus 2001)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: