Oleh: trieelangsutajaya2008 | Agustus 5, 2008

MBG, Mewujudkan Pramuka Mandiri

oleh: Trimo (Dosen FIP IKIP PGRI Semarang)

Bulan Agustus merupakan bulan keramat bagi Bangsa Indonesia, lantaran keberadaannya menjadi titik kulminasi perjuangan bangsa yaitu kemerdekaan. Bulan Agustus juga menjadi bulan sakral bagi anggota gerakan pramuka, karena tiap bulan tersebut seluruh anggota gerakan pramuka memperingati hari jadinya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan HUT Pramuka ke-40 tahun ini masih terpola dengan lagu lama. Kegiatan renungan/ulang janji malam 14 Agustus, ziarah ke makam pahlawan dan upacara apel besar pramuka seakan menjadi tradisi pramuka yang belum mengalami evolusi.

Hal yang agak berbeda barangkali adalah terpilihnya Megawati sebagai presiden, sehingga secara ex offisio menjadi Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka. Itu berarti, ada harapan cerah bagi pengembangan organisasi gerakan pramuka menuju ke suatu titik kemandirian dan kreativitas.

Orang sudah tahu, bahwa gerakan pramuka dibangun untuk memberi bekal kepada peserta didik untuk mandiri dan kreatif. Tetapi, orang menjadi tidak tahu, ketika kemandirian dan kreativitas yang dimaksud merupakan hal-hal yang sudah terpola. Memasak misalnya, orang berasumsi bahwa dengan memasak sendiri dalam berkemah maka anggota pramuka akan mandiri. Tetapi bagaimana realitas kemandirian itu? Pramuka sekarang berbeda dengan pramuka zaman dulu (Pandu). Mereka berkemah dibekali dengan uang saku yang banyak sehingga untuk memasak mereka tidak pernah berpikir bahkan yang akhir-akhir sedang actual adalah kemah catering, artinya berkemah yang segala keperluan konsumsinya ditanggung catering.

Pola Kekawatiran

Sinyalemen ini berkembang menarik ketika lunturnya kemandirian itu justru didukung oleh upaya pembina untuk “membantu” peserta didiknya, dalam berbagai hal yang bernafas kemandirian dan kreativitas. Hal tersebut tampak nyata dalam kegiatan berkemah, fungsi pembina beralih menjadi “penjual nasi” dan “pelayan warung”. Mengapa ada semacam kekawatiran pembina, ketika makanan yang dibagi tidak akan merata, jika pembina sendiri yang tidak membagikan? Mengapa, peserta didik tidak dilatih untuk belajar mengendalikan diri demi kebersamaan?

Pola-pola kekawatiran tersebut justru akan mendidik gerakan pramuka menjadi “robot” yang hanya akan bergerak ketika diprogram. Dampak yang sangat terasa adalah terpolanya kekawatiran serupa di tingkat bawah (gugus depan) yang bermuara pada kurang antusiasnya peserta didik dalam mengikuti kegiatan pramuka. Karenanya, muncul pola pemaksaan anak untuk masuk dan mengikuti gerakan pramuka.

Di gugus depan yang berpangkalan di SD, kegiatan pramuka merupakan conditio qua sine non dan hukumnya wajib. Artinya seluruh peserta didik “dipaksa” untuk berpramuka. Hal serupa juga terjadi pada gugus depan SLTP dan SLTA, hanya bedanya rentang waktu “pemaksaan”. Fenomena tersebut sudah barang tentu bertentangan dengan prinsip sukarela dalam gerakan pramuka.

Jika dikaji lebih mendalam, proses pemaksaan peserta didik untuk berpramuka akan melahirkan sebuah siklus, dari “suka paksa – paksa rela – suka rela”. Suka paksa merupakan trik awal yang dilakukan dengan memaksa peserta didik dengan “ancaman” sehingga mau tidak mau harus suka pada kegiatan pramuka. Paksa rela merupakan buntut dari pola kondisi peserta didik yang secara evolusif menyukai pramuka. Artinya, mereka menjadi rela dipaksa untuk berpramuka, yang pada ujungnya menjadi suka rela.

Produk dari terpola siklus tersebut lambat laun akan mempola hal yang sama pada tahap pengembangan gerakan pramuka. Lantaran bernaung di bawah prinsip suka rela maka dalam aktivitasnya gerakan pramuka perlu didukung oleh peserta didik, pembina dan majelis pembimbing yang mempunyai akuntabilitas tinggi terhadap kelangsungan pramuka.

Sayangnya, pengotomatisan pejabat di negara Indonesia untuk berpramuka dan menduduki jabatan dalam pramuka terkesan simbolis belaka. Seorang Camat misalnya, ia secara otomatis akan menjadi Ketua Majelis Pembimbing Ranting, terlepas ia suka atau tidak suka terhadap pramuka. Hal tersebut sudah barang tentu akan berimplikasi pada efektifitas dan efisiensi kegiatan pramuka.

Ada sebuah wacana yang barangkali menarik, bagaimana seandainya keberadaan pramuka tidak memaksa “para pejabat” untuk berpramuka? Pertanyaan sederhana ini, secara implisit memberikan peluang dan tantangan terhadap gerakan pramuka agar tidak terlalu terbuai dalam nina bobo lagu (pramuka siapa yang punya 3X, yang punya kita semua).

Dalam terminologi umum, ada semacam kekawatiran gerakan pramuka bila tidak mendapat dukungan (terutama dalam hal dana) dari pemerintah. Kekawatiran ini diterjermahkan para “petinggi” pramuka dengan menggalang kekuatan peserta didik di seluruh lapisan masyarakat. Artinya, gerakan pramuka mempunyai senjata pamungkas untuk mencari dukungan dari seluruh pihak guna mewujudkan kemandirian dan kreativitas nyata dalam sumbang sihnya terhadap bangsa dan negara Indonesia.

MBG

Selaras dengan bergulirnya Otonomi Daerah (Otda) maka sudah barang tentu kemandirian dan kreativitas merupakan hal mutlak yang harus dimiliki gerakan pramuka. Langkah awal kiranya dapat dilakukan dengan menerapkan Manajemen Berbasis Gugus depan (MBG). Artinya segala sesuatu yang menyangkut maju mundurnya sebuah gugus depan pramuka, sangat tergantung pada upaya gerakan pramuka dalam rangka memperkuat diri dan bertahan dalam pluralitas berbagai organisasi yang ada di masyarakat.

Menurut hemat saya, setidaknya ada lima hal yang jika disingkat menjadi 5K, jika gerakan pramuka hendak menerapkan Manajemen Berbasis Gugus depan (MBG), yaitu: pertama, kesungguhan yang mengacu pada antusias pembina dalam suatu gugus depan untuk mengelolakembangkan gerakan pramuka secara sukarela. Kedua, kemandirian yang menitikberatkan pada kemampuan pembina dalam sebuah gugus depan untuk mandiri, baik dalam hal penggalangan iuran/dana maupun pengembangan gerakan pramuka dengan berpedoman pada AD/ART/

Ketiga, kreativitas berhubungan dengan aktualisasi potensi peserta didik yang perlu dikembangtingkatkan oleh pembina dengan serangkaian kegiatan menarik dan mengembangkan cara berpikir divergent pada anggota pramuka. Keempat, kekompakkan yang menekankan pada hubungan kerja sama dan koordinasi seluruh anggota pramuka dalam sebuah gugus depan, sehingga tercipta suatu iklim kondusif dalam rangka mewujudkan cita-cita luhur gerakan pramuka. Hal ini sangat penting lantaran kekompakkan dalam sebuah organisasi akan menjadikan orang-orang yang terlibat di dalamnya ikut “handarbeni” dan mendukung segala upaya demi kemajuan organisasi tersebut,

Kelima, keefektifan ditandai dengan ketercapaian tujuan program kegiatan pramuka yang telah dirumuskan. Secara sederhana, sebuah gugus depan yang mempunyai program kegiatan Lomba Galang misalnya, dapat dikatakan efektif jika secara kuantitas jumlah peserta banyak dan secara kualitas pesertanya mampu meraih standart nilai minimal yang ditetapkan. Sudah barang tentu, ketercapaian kuantitas dan kualitas akan dibarengi dengan efisiensi, baik waktu, tenaga dan pembiayaan.

Mandiri dan Kreatif

Jika ditelaah secara detail dan mendalam, MBG dengan 5K, pada saatnya nanti akan memberikan jawaban terhadap segala permasalahan yang terjadi dalam gerakan pramuka. Masih banyaknya gugus depan yang hanya “berpramuka” pada bulan Agustus saja merupakan bukti nyata, penting dan mendesaknya penerapan manajemen berbasis gugus depan.

Pola-pola kekawatiran dan pemaksaan dengan memanfaatkan proses siklus “suka paksa – paksa rela – suka rela), akan lebur dengan sendirinya ketika manajemen berbasis gugus depan diterapkan. Konsekuensi logisnya, seluruh anggota pramuka dalam gugus depan tersebut harus bersatu padu dalam merealisasikan potret gerakan pramuka yang mandiri dan kreatif. Mandiri dalam segala bentuk aktivitas, dan kreatif dalam hal aktualisasi potensi yang perlu dikembangtingkatkan.

Oleh karena itu, di HUT Pramuka ke-40 ini, gerakan pramuka diharapkan lebih membuka diri terhadap kritik dan saran dari segenap pihak dan “belajar” untuk memahami segala bentuk pluralitas yang terjadi di masyarakat sebagai wahana penempaan diri. Akhirnya, Dirgahayu Gerakan Pramuka! Selamat Memandu Anak Negerimu!

(Dimuat di Harian Wawasan 14 Agustus 2001)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: