Oleh: trieelangsutajaya2008 | Agustus 5, 2008

Keheningan Nyepi

oleh: Trimo (Dosen FIP IKIP PGRI Semarang)

Sebait sloka dalam Puspanjali tertulis: “Aum sahna vavatu sahnou bhunaktu, sahaviryamkarva vahai, tejasvina avadhi tamastu, ma vidvisa vahai” artinya marilah kita belajar bersama, berkembang bersama, memperoleh pengetahuan bersama. Semoga tidak terjadi kesalahpahaman di antara kita, dan apabila terjadi kesalahpahaman, semoga kita dapat saling memaafkan.

Ajakan yang tersirat dalam sloka Puspanjali di atas, seperti mengingatkan bangsa Indonesia yang saat ini sedang dalam kondisi kurang menentu. Ketika negeri kita sedang belajar berbenah diri, angin perpecahan berhembus kemana-mana. Aceh tertoreh, Sampit menangis dan euforia konflik menggejala di seluruh dimensi kehidupan. Persatuan dan kesatuan yang dulu diidolakan menjadi senjata pamungkas dalam menyelesaikan konflik, kini “nyaris tak terdengar”.

Peran agama yang secara signifikan menjadi filter utama dalam menengarai munculnya konflik, secara evolusif berubah fungsi untuk kepentingan politik. Agama telah dijadikan alat politik, dan politik secara leluasa telah menggeser norma agama dari perbuatan dharma (kebajikan) ke arah adharma (keburukan).

Tujuan Tertinggi

Dharma dalam ajaran Hindu merupakan tujuan tertinggi yang dilandasi oleh kaidah dan nilai-nilai spiritual, moral dan etika sebagai panutan dan tuntutan hidup yang bersumber dari kitab Sruti dan Catur Weda. Berbakti merupakan pengabdian yang tulus ikhlas dan pengejawantahan dari pengabdian catur fungsi sosial yang corak, cara dan jalannya diwarnai oleh swadharma dengan konsep Tri Kaya Parisudha.

Tri Kaya Parisudha yang merupakan tiga sikap dasar tata susila yaitu berpikir yang baik (manacika), berkata yang benar (wacika) dan berbuat yang baik (kayika). Ibarat sebuah sistem, ketiganya merupakan satu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan tertinggi agama Hindu, yaitu: “Moksartham Jagatditaya Caiti Dharma” yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin, material spiritual berdasarkan dharma.

Dharma merupakan kebajikan yang mengejawantah dalam wujud harkat dan martabat manusia utama, untuk mengupayakan perdamaian (shanti) serta menolak permusuhan, perselisihan, pertikaian atau yang menimbulkan peperangan, saling menghormati dan penuh toleransi (Tat Twam Asi) sehingga terwujud kebersamaan, kesetiakawanan dan menjauhkan diri dari sikap dan tindakan maupun perbuatan yang merugikan orang lain.

Dalam dimensi konflik yang berkepenjangan dewasa ini, tujuan luhur tadi akan dapat tercapai apabila ada integrasi korelasi antara manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungan. Ketiga hal tersebut dalam ajaran agama Hindu dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.

Dharma dalam keheningan akan menjadi cermin bagi manusia untuk mengevaluasi sejauh mana perbuatan manusia mencapai akuntabilitas yang tinggi terhadap kesejahteraan, ketenangan dan kedamaian umat manusia. Peningkatan iman dan takwa (sradha dan bhakti) terhadap ajaran agama merupakan wujud nyata pengamalan dharma dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dalam merayakan hari besar agama.

Hening Tanpa Kata

Secara kuantitas, agama Hindu mempunyai beberapa hari raya, seperti hari Galungan (Pawedalan Jagad), Kuningan (turunnya Sang Pitara), Saraswati (Ilmu Pengetahuan), Siwaratri (Malam Renungan Suci), Pagerwesi (Sang Hyang Widhi Beryoga), dan Nyepi. Yang disebut terakhir merupakan hari yang mendapatkan legalitas nasional lantaran tepat pada hari itu seluruh aktivitas “diliburkan” oleh pemerintah.

Kata “Nyepi” identik dengan “Sepi”, keduanya mengandung makna denotasi yang sama yaitu suatu keadaan yang sunyi, hening tanpa kata. Keadaan hening itulah yang dewasa ini seperti tak pernah didapatkan oleh manusia. Tanpa keheningan, manusia tak dapat berpikir jernih. Tanpa keheningan, manusia tak dapat membedakan secara cermat perbuatan yang baik (karma) dan perbuatan yang tidak baik (asuba karma).

Seperti yang tertulis dalam Kakawin Nirartha Prakreta: “ri heneng nikanang ambek tibra alit mahening aho, lengit atisaya sunya jnananasraya wekasan, swaying umibeki tan ring rat mwang deha tuduhana, ri pangawakira sang hyang tattwadhyatmika katemu” yang artinya ketika hati telah tenang, hening, halus dan cemerlang, kemudian menyusup ke alam sunya, alam rasa yang sempurna, pikiran bagaikan telah meliputi seluruh alam namun tidak diketahui darimana datangnya, akhirnya ia bersatu dengan Sang Hyang Tattwadhyatmika (kebenaran tertinggi).

Mencermati sloka di atas, betapa pentingnya keheningan dalam berpikir lantaran dengan keheningan niscaya akan terwujud kebenaran tertinggi, bukan kebenaran secara individual, kelompok maupun golongan. Itulah sebenarnya inti sari dari Hari Nyepi yang harus diimplementasikan dalam wujud Catur Brata Penyepian.

Empat Amati

Secara singkat, keheningan yang diharapkan dalam Catur Brata Penyepian meliputi: (1) Amati Geni yang ditandai dengan tidak menyalakan api dan tidak mengobarkan hawa nafsu, (2) Amati Karya, diwujudkan dengan tidak melakukan kegiatan kerja jasmani melainkan meningkatkan kegiatan penyucian rohani, (3) Amati Lelungan, dalam artian tidak bepergian melainkan mawas diri dengan memusatkan pikiran terhadap Sang Hyang Widhi Wasa, dan (4) Amati Lelanguan, yang berarti tidak mengadakan hiburan/bersenang-senang baik di rumah maupun di tempat lain.

Keheningan dalam empat “amati” tadi dilaksanakan tepat pada saat Hari Nyepi yaitu pada penanggalan ke satu sasih kedasa (Waisaka) atau sehari setelah Tilem Kasanga (Caitra). Menurut penanggalan Masehi tahun ini, Nyepi jatuh pada tanggal 25 Maret 2001. Agar kondisi jiwa dan raga manusia secara totalitas siap melaksanakan keempat “amati” maka sehari sebelum Nyepi umat Hindu melakukan upacara Melasti di laut, danau atau sumber mata air yang disucikan. Maknanya untuk membersihkan diri lahir batin serta untuk memperoleh tirta amerta, air suci kehidupan. Lantas melakukan upacara Tawur Kesanga yang bermakna membersihkan dan mengembalikan keseimbangan bhuwana agung dan bhuwana alit (macro dan microcosmos), sekala maupun niskala.

Totalitas Cipta Rasa Karsa

Keheningan dalam Catur Brata Penyepian akan berpengaruh pada totalitas seluruh cipta, rasa dan karsa manusia yang difokuskan pada pemujaan keagungan Tuhan Yang Maha Esa, yang pada hakikatnya merupakan manifestasi dari pengendalian hawa nafsu agar sejalan dengan etika keagamaan. Seperti tertulis dalam Kitab Bhagawadgita bab IV sloka 10 yang berbunyi: “Vita raga bhaya krodha, manmaya mam upasri tah bahavo jnana tapasa, puta madbhavam agatam” artinya terbebas dari hawa nafsu, takut dan benci, bersatu dan berlindung pada-Ku, dibersihkan oleh kesucian budi pekerti, banyak yang telah mencapai diri-Ku.

Memaknai Nyepi dalam keheningan Catur Brata Penyepian, sebetulnya merupakan personifikasi dari kondisi negara kita yang masih “gonjang-ganjing”. Kita membutuhkan kembalinya rasa persatuan dan kesatuan yang menurut sejarah telah membulatkan tekad bangsa Indonesia. Sesungguhnya, setiap umat manusia sudah sadar bahwa persatuan dan kesatuan adalah hal utama dalam mewujudkan potret bangsa menuju masa depan yang penuh harapan.

Harapan itu jelas tersurat dalam Kitab Rg Weda X. 191, 2-4 yang secara bebas diartikan “Hendaklah bersatu padulah, bermusyawarah dan mufakat guna mencapai tujuan dan maksud yang sama, seperti para Dewa pada zaman dahulu telah bersatu padu. Begitu juga, bersembahyanglah menurut caramu masing-masing, namun tujuan dan hatimu tetap sama, serta pikiranmu satu, agar dikau dapat hidup bersama dengan bahagia”.

Itulah sebenarnya kristalisasi perayaan Hari Nyepi, akhirnya selamat merayakan Hari Nyepi bagi umat Hindu di manapun berada. Semoga keheningan dalam Catur Brata Penyepian dapat membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa kita agar terbebas dari zaman kala bendu.

(Dimuat Suara Merdeka, 12 April 2002)


Responses

  1. Itu memang potret pendidikan yang tak bisa dibantah.Idealisme kalah dengan realita, dimana tujuan mulia kalah dengan kemapanan yang kurang bijaksana. Sekedar saran saja bagi para pemegang kebijakan ( mulai dari kepala sekolah sampai ke level paling atas ) agar secara periodik, jujur dan tegas untuk memberikan penilaian bagi guru yang benar-benar menjalankan tugasnya dengan arif dan bijaksana ( berpihak kepada semua lapisan masyarakat tanpa mengabaikan mutu dan sesuai acuan pemerintah) untuk bersedia memberikan reward yang diharapkan dapat merangsang niat para guru untuk mengajar secara kreatif dan lebih baik. Yang jelas ini sebuah kebijakan yang terintegrasi dari banyak pihak. Terima kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: