Oleh: trieelangsutajaya2008 | Agustus 5, 2008

Guruku, Kembalilah ke Jalan yang Benar

oleh: Trimo, S.Pd.,M.Pd. (Dosen IKIP PGRI Semarang)

Seorang mahasiswa menceritakan tentang kegelisahannya ketika mengunjungi sekolah tempat ia dididik puluhan tahun silam. Balutan idealisme yang melekat kuat seakan terburai oleh sebuah kenyataan. Guru yang dulu tenang, sabar, dan berwibawa menjadi guru yang “garang” dan ”mendagangkan” sekolah.

Kelas memang tenang, namun penuh ketakutan dan kecemasan. Tidak ada lagi tepuk tangan, keceriaan, dan senyum dari siswa. Berkali-kali, guru memegang penggaris dan membenturkannya ke papan tulis ketika siswa terlihat gaduh. “Bisa diam apa tidak?” kalimat itu seolah menjadi “lagu” yang memilukan.

Rumah siswa dalam sudut sempit telah berubah menjadi ornamen kelas yang statis. Kalau toh ada ornamen, itu pun hanya sebagai pelengkap penderita. Kemalasan guru agaknya menjadi salah satu indikator kebuntuan berbagai kebijakan yang sebenarnya bermuara pada peningkatan mutu pendidikan.

Pelayanan kepada siswa yang menjurus pada malpraktik sering termediakan. Beragam peristiwa yang menjurus pada kekurangprofesionalan guru seakan menempatkan guru pada suatu jalan berliku dan terjal. Kasus guru menyakiti siswa, seperti menampar, menendang, menempeleng, dan sejenisnya seakan menjadi bumbu pelengkap. Guru kita memang belum profesional. Potret sederhana di atas setidaknya mendukung data statistik Balitbang Depdiknas (2002) bahwa 50,51% guru SD tidak layak mengajar. Sementara 33,67% guru SMP dinyatakan tidak layak mengajar. Hal ini juga diperkuat dengan data pada UNDP (2007) tentang Human Development Index yang menempatkan Indonesia pada peringkat 107 dari 177 negara yang disurvei.

Pemberlakuan kurikulum berbasis kompetensi yang kemudian direparasi menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan yang secara substansial begitu menyentuh kebutuhan siswa juga masih di awang-awang. Masih banyak guru yang apatis dan resistance ketika belajar memaknai KBK/KTSP dalam konteks pembelajarannya. Banyak guru ditatar KBK/KTSP secara berjenjang namun ketika sampai pada tahap aplikatif, actionnya nyaris tak terdengar. Guru hanya menjadi tukang mengajar seperti sedia kala, bukan sebagai arsitek pembelajaran.

Jika tidak percaya, sekali tempo stakeholders pendidikan langsung sidak (tidak usah memberi tahu) ke sekolah-sekolah negeri yang mengklaim dan sudah ber-KBK/KTSP. Di situlah, kita akan tau jawabnya bahwa sebenarnya kita dikibuli oleh ratusan bahkan ribuan guru. Mereka (baca:guru) masih malas berubah. Pandangan mereka sederhana: “kalau sesuatu yang mudah mapan mengapa digonta-ganti”. Sebuah pandangan klasik yang cenderung mencari kambing hitam.

Kemalasan guru untuk mengajar secara profesional dilandasi pemikiran tidak adanya kontribusi, baik positif maupun negatif. Seorang guru yang mengajar dengan pola pembelajaran bernuansa KBK/KTSP tidak akan berpengaruh terhadap gaji yang diterima tiap bulannya. Gaji mereka toh tetap akan sama jika dibandingkan dengan gaji guru yang mengajar seenaknya sendiri. Lagi pula, pemerintah tidak akan memberi sanksi bagi guru-gura yang malas dan tidak mampu mengajar sesuai dengan KBK/KTSP. Dalam bahasa jawa, inilah yang barangkali diistilahkan “tumbu oleh tutup” artinya klop.

Namun, sebenarnya ada kepuasan batin dan sekaligus kebanggaan nurani apabila guru mau belajar untuk berubah dalam konteks pembelajaran. Secara sederhana, mendisain pembelajaran yang bermakna dengan menerapkan paradigma pembelajaran efektif: learning to do, learning to know, learning to be, dan learning to live together merupakan kebangkitan awal guru untuk kembali ke jalan yang benar.

Guruku, mari kita kembali ke jalan yang benar seperti jalan yang pernah kau rintis kala menjadi guru PPL. Kita bimbing anak-anak dengan penuh kesabaran dan profesional agar kelak menjadi orang-orang terpilih. Jadilah garam, walaupun sedikit dapat memberi rasa merata.

Tidak akan ada lagi suara penggaris yang menggedor papan tulis. Tidak ada lagi suara kasarmu yang memekakkan telinga. Tidak ada lagi lambaian tanganmu yang melayang di pipi. Tidak ada lagi hentakan kakimu yang mengoyak tubuh, dan tidak ada lagi tatapan matamu yang garang.


Responses

  1. Hal tersebut memang sudah menjadi realita yang terjadi dalam dunia pendidikan dibumi pertiwi ini. Sungguh ironis, manakala seorang guru yang semestinya patut {diGugu dan ditiRu / GURU}, kini telah berubah haluan. Kita tentunya sebagai calon pendidik merasa sedih akan hal tersebut. Wahai para Guru! marilah kita meriview terhadap jasa-jasa yang telah diwariskan oleh para pejuang terdahulu. Agar negeri ini menjadi lebih bermartabat terhadap negeri lain.
    Sudah saatnyalah kita sebagai seorang pendidik kembali pada jalan yang benar sesuai dengan apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita.

  2. maaf pak..kalau saya boleh bercerita…dari pengalaman di desa saya..ada seorang guru yang mungkin agak sedikit jengkel dengan kelakuan muridnya….suatu hari mendapati salah seorang murid melakukan kenakalan yang saya rasa itu masih dalam tarap kewajaran untuk seorang anak kecil….yaitu dia menjambak rambut temanny…..tapi bagi si guru tersebut perbuatan muridnya itu dianggap sudah kelewatan..sehingga muridnya tersebut disuruh pulang dan dikata-katai yang yang sebenarnya kata-kataitu tidak pantas diperdengarkan kapada anak didik…karena saya rasa itu bisa mempengaruhi pertumbuhan mental sang anak…singkat cerita sang anak tidak berani masuk sekolah lagi…sampai sekarang..hal inilah yang saya sayangkan…sebagai seorang guru…dia tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang guru yang seharusnya bisa memberikan rasa aman kepada anak didik….
    kalau saya saya boleh usul….bagaimana kalau bagi guru sekolah dasar diberikan pelatihan-pelatihan yang temanya ” bagaimana cara mendidik mental anak didik dengan dan tanpa kekerasan “….mungkin sementara ini dulu yang saya bisa saya sampaikan….satu lagi..saya adalah mahasiswa IKIP PGRI Semarang, semester 3 yang kebetulan mengikuti mata kuliah Bapak.. saya di kelas 3G.
    Sekian dan terima kasih.

  3. Dengan melihat kondisi dan fenomena tersebut sudah tidak dapat dipungkiri bahwa ternyata masih ada diantara pendidik (guru) kita yang telah menyalahi kode etik keguruan. hal tersebut didukung dengan adanya beberapa hasil riset yang telah dilakukan patut disayangkan dan sungguh ironis memang manakala seorang guru yang semestinya menjadi panutan bagi siswa kini telah berbalik menjadi 180 derajat. oleh karena itu sudah saatnyalah bagi seorang guru untuk dapat mengibarkan kembali panji-panji keguruannya guna menepis anggapan guru itu layaknya seekor harimau yang lapar akan kesalahan siswa-siswanya. wahai para guru marilah rapatkan kembali barisannya guna menghasilkan siswa-siswi yang dapat berguna bagi dirinya dan orang lain.

  4. Memang sudah tidak menjadi rahasia umum lagi dalam dunia pendidikan di negeri ini apalagi didukung dengan beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa lembaga di Indonesia. Kita tentunya sebagai pendididk sangat menyayangkan akan fenomena tersebut yang mana justru akan memperburuk citra bagi seorang pendidik sendiri,oleh karena itu sudah saatnya lah bagi pendidik(guru) untuk dapat menempatkan diri akan ketidaksesuaian tersebut. Dan para pendidik harus mulai berusaha untuk memunculkan citra seorang pendidik yang baik kembali ke masyarakat.

  5. sudah tidak menjadi rahasia umum..jaman sekarang guru bukanlah teladan yang baik.kita sebagai calon pendidik sangat sedih melihat kondisi seperti ini.jadi sudah saatnya kita sebagai calon pendidik kebali ke jalan yang benar sesuai dengan yang diwariskan oleh pendulu kita dan jadilah seorang pendidik yang baik dan dapat memberi conyoh kepada anak didik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: