Oleh: trieelangsutajaya2008 | Agustus 5, 2008

Ebtanas, Potret Pengekangan Kreativitas

oleh: Trimo (Dosen FIP IKIP PGRI Semarang)

Ada sebuah sinyalemen yang berkembang akhir-akhir ini di dunia pendidikan berkaitan dengan penyelenggaraan Ebtanas yang diyakini sebagai titik kulminasi dari serangkaian “perjuangan” peserta didik dalam satuan jenjang pendidikan tertentu. Sinyalemen yang bergerak ke arah kutub negatif sangat rentan terhadap harapan masyarakat yang menginginkan arah pendidikan yang masih mensyaratkan melewati tahapan Ebtanas. Itu berarti, ada sebuah tanda tanya besar yang perlu dijawab oleh “petinggi” pendidikan di negeri ini terhadap relevansi ebtanas dengan kebutuhan masyarakat.

Masih relevankah di era reformasi ini, mempertahankan Ebtanas yang merupakan produk dari pengekangan kreativitas ? Pertanyaan ini mungkin bagi para “petinggi” pendidikan jelas merupakan usaha “mereformasi” kebiasaan turun-temurun yang menurut kaca mata mereka baik dan sekaligus menjadi tamparan keras. Betapa tidak, penyelenggaraan Ebtanas yang ditandai dengan perolehan Nilai Ebtanas Murni (NEM) menurut “petinggi” pendidikan bertujuan (1) sebagai alat kontrol dan pendorong bagi sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan; (2) alat seleksi untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi; (3) alat ukur yang memberi gambaran riil kemampuan tamatan secara individu/nasional; (4) alat ukur yang memberi gambaran tentang peta mutu pendidikan dan kemampuan tamatan antar jenis satuan pendidikan dan antar wilayah dari waktu ke waktu; (5) umpan balik pengembangan kurikulum dan untuk pengambilan kebijakan pendidikan mulai dari tingkat sekolah smpai ke tingkat pusat;

(6) sebagai masukan bagi guru dan salah satu bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat sehingga dapat mengevaluasi sejauh mana hasil pendidikan di tanah air, dan yang ke (7) sebagai bahan pertimbangan penentuan tamat belajar.

Pro dan Kontra

Secara sekilas saja kalau kita memperhatikan tujuan penyelenggaraan Ebtanas yang dirumuskan oleh pemerintah dalam hal ini Depdiknas, terbayang gambaran dalam benak kita bahwa rumusan tersebut begitu luhur dan ideal sekali. Lantas, mengapa masyarakat banyak yang pro dan kontra terhadap penyelenggaraan Ebtanas ? Padahal kalau ditilik dari terminologi tujuannya tidak bertentangan dengan sistem pendidikan nasional yang berlaku di negara kita.

Keragu-raguan masyarakat akan format “kualitas” penyelenggaraan Ebtanas akhir-akhir ini bukan merupakan hal yang baru namun merupakan hal lama yang “baru” dimunculkan lantaran adanya hembusan angin reformasi. Paling tidak ada 3 faktor yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku masyarakat yang berimplikasi terhadap dilematisasi penyelenggaraan Ebtanas. Pertama, target kurikulum. Masyarakat berasumsi bahwa penyelenggaraan Ebtanas hanya mengejar target kurikulum. Dengan demikian akan berdampak bagi sistem pengajaran yang lebih menitikberatkan pelajaran yang diebtanaskan saja, sedang mata pelajaran lainnya hanya sebagai “pelengkap penderita”. Asumsi ini memang sangat mendasar dan beralasan lantaran dengan ditentukannya mata pelajaran yang diebtanaskan dan yang tidak diebtanaskan akan berdampak munculnya istilah “guru mata pelajaran ebtanas” dan “guru mata pelajaran non ebtanas”, yang akhirnya akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku peserta didik terhadap gurunya.

Secara sederhana dapatlah dicontohkan, siswa akan lebih “menghormati” dan memperhatikan penjelasan guru yang mengampu mata pelajaran ebtanas dari pada guru lainnya. Lantaran mata Pelajaran Ebtanas, jelas akan berpengaruh terhadap seleksi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kedua, ebtanas lebih dekat dengan cara-cara berpikir konvergen daripada berpikir divergen. Berpikir konvergent, menurut Prof. Dr. SCU Munandar adalah suatu aktivitas yang dilakukan di mana siswa hanya menemukan satu jawaban dari permasalahan yang dihadapi. Sedang berpikir divergen adalah segala aktivitas yang dilakukan di mana siswa menemukan beragam alternatif jawaban dari permasalahan yang dihadapi. Konsep berpikir divergen inilah dalam dunia pendidikan sering disebut dengan kreatifitas yang secara sederhana dapat diartikan kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada.

Pilihan Ganda Semua

Konsep berpikir divergen yang akan “memprogram” siswa menjadi kreatif, dahulu memang pernah diterapkan dalam soal-soal Ebtanas, walaupun kadarnya sangat kecil sekali. Biasanya berbentuk soal-soal isian dan uraian. Namun sekarang, soal-soal Ebtanas yang mengacu pada konsep berpikir divergen sudah “direformasi”. Beberapa tahun yang lalu, siswa SMU yang kemudian diikuti siswa SLTP harus berhadapan dengan soal-soal Ebtanas yang modelnya pilihan ganda semua. Kini, mulai tahun Pelajaran 1999/2000, anak-anak SD harus beradaptasi dengan soal-soal dengan bentuk pilihan ganda semua tanpa isian dan uraian. Ironisnya, perihal pemberlakuan soal-soal pilihan ganda secara total ini belum banyak diketahui oleh kalangan pendidik karena pemberlakukan dan penyebaran informasinya begitu mendesak sekali.

Mereka (guru SD red) sudah terbiasa mempersiapkan anak-anaknya dalam menghadapi Ebtanas dengan mengacu pada soal-soal tahun lalu yang terdiri dari pilihan ganda (35 butir), isian (10 butir) dan uraian (5 butir).

Pemberlakuan soal Ebtanas untuk anak SD yang bentuknya pilihan ganda semua, jelas hanya menguntungkan pihak pemeriksa saja lantaran tidak perlu memeriksa item-item soal yang menggunakan pikiran. Sedang secara tidak sadar, pemberlakuan tersebut akan banyak merugikan anak lantaran tolok ukur penilaiannya hanya benar dan salah. Hal yang demikian tentu semakin membenarkan asumsi masyarakat bahwa Ebtanas merupakan potret dari pengekangan kreativitas anak.

Menganaktirikan sekolah swasta

Faktor ketiga berkaitan dengan masalah dana yang sangat riskan sekali. Sering kita mendengar dan membaca berita tentang adanya protes dari orang tua murid terhadap pungutan/iuran untuk penyelenggaraan Ebtanas. Padahal, untuk Provinsi Jawa Tengah berdasarkan Keputusan Bersama antara Kakanwil Depdiknas Provinsi Jateng, Kadinas P dan K Provinsi Jateng dan Kakandepag Provinsi Jateng nomor :0122/I03.02/PR/2000 dan nomor : 423.7/02733 serta nomor : Wk/5.a/PP.01.1/1372/2000 tanggal 29 April 2000, beaya penyelenggaraan Ebtanas untuk sekolah “Negeri” dibebankan kepada Dinas P dan K Provinsi Jateng (untuk SD/SLB), Depdiknas Provinsi Jateng (SLTP, SLTPLB, SMU, SMLB dan SMK) dan Kanwil Depag Provinsi Jateng (MI, MTA dan MA).

Sedangkan untuk sekolah swasta, beban beaya Ebtanas dibebankan kepada sumbangan dari murid namun tidak memberatkan, menerapkan prinsip gotong royong dengan kepedulian yang tinggi untuk ikut membantu siswa yang tidak mampu membayar. Selebihnya penentuan besarnya beaya Ebtanaspun harus dikonsultasikan dan disetuji lebih dahulu oleh Gubernur Jawa Tengah.

Sampai pada tahap pengucuran dana saja, Sudah kelihatan betapa ada ketimpangan yang sangat signifikan sekali. Hal ini tampak pada pemberian dana bagi sekolah “Negeri”, sedangkan sekolah swasta tak tersentuh sedikitpun. Padahal kalau kita cermati kembali, di sekolah swasta ada prinsip gotong royong yang konon menjadi “simbol” perlawanan bangsa Indonesia ketika menghadapi penjajah namun tidak dimiliki oleh sekolah negeri. Adanya ketimpangan yang menjurus pada sikap “menganaktirikan” sekolah swasta jelas akan memberikan renungan tersendiri bagi pengelola sekolah swasta dan masyarakat akan validitas penyelenggaran Ebtanas.

Perjelas komitmen

Mengacu pada uraian sederhana mengenai asumsi masyarakat terhadap penyelenggaraan Ebtanas, ada baiknya pihak “petinggi” pendidikan segera mempertegas komitmen tentang postur pendidikan di masa datang. Dalam artian, mau di bawa ke mana arah pendidikan anak-anak bangsa ini. Komitmen ini sangat diperlukan untuk memberi arah yang jelas terhadap masa depan peserta didik dalam jenjang pendidikan tertentu. Kekurangjelasan peserta didik, pendidik dan masyarakat akan rumusan postur pendidikan di masa datang akan berdampak pada sikap “apatis dan pesimis” dalam upaya melibatkan diri dalam satu sistem pendidikan nasional.

Postur pendidikan di masa datang menurut hemat saya adalah gambaran pendidikan yang mempersiapkan anak sejak dini agar dapat berpikir divergent. Itu berarti membangkitkan kreatifitas anak adalah hal yang utama lantaran kreatifitas pada hakikatnya merupakan suatu proses bukan produk.

Penyelenggaraan Ebtanas yang “mengekang” kreatifitas anak jelas akan bertolak belakang dengan postur pendidikan di masa datang. Oleh karena itu Sudah saatnya, penyelenggaraan Ebtanas ditinjau kembali, bila perlu dihapuskan guna menumbuhkembangkan kreatifitas anak.

(Dimuat di Tabloid Inspirator Agustus 2000)


Responses

  1. SUPAYA LULUS DAN MENYENANGKAN HATI ORANG TUA

  2. SUPAYA LULUS


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: