Oleh: trieelangsutajaya2008 | Juli 18, 2008

GURU DI TENGAH “TERORISME” PENDIDIKAN

oleh: Trimo, S.Pd.,M.Pd.

Dosen IKIP PGRI Semarang

Pengantar

Kebiasaan kawan-kawan lama saya yang mendadak kontak ataupun menyempatkan untuk bertemu menjadi indikasi sentuhan emosi dan nurani yang sedemikian fundamental terbalut dalam pertemanan saya. Hal yang lumrah manakala kawan-kawan saya langsung ingat pada memori kehidupan lampau saat kegelisahan kecil. Dalam situasi yang serba tak tentu itulah, kawan lama saya “memaksa” saya untuk mengisi sebuah seminar.

Hampir tidak percaya saat kawan saya yang daerahnya secara geografis jauh dari keramaian kota itu, mengadakan seminar. Hebatnya, tema yang diusung (jika tidak salah dengar dan baca) adalah “Revitalisasi KKG”. Sungguh tema yang sangat menggelitik hati kecil saya lantaran di berbagai media keberdaaan KKG sudah saya “obrak-abrik”.

Mulanya, saya diminta untuk mengisi materi Contextual Teaching and Learning (CTL) yang bagi saya hanya memberi tahu guru tentang hal baik-baik saja. Karena ngeyel saya diberi kebebasan kawan saya (mungkin panitia) untuk berbicara hal-hal aktual seputar kehidupan guru. Lantas, muncul gagasan “terorisme” pendidikan sebagai wujud refleksi ketidakberdayaan guru. Benarkah guru kita tidak berdaya? Mungkinkah guru kita takut bersuara? Apakah guru kita terlibat dalam “terorisme” pendidikan atau setidaknya berlatih untuk menjadi teroris? Lantas, hal apa yang perlu disiapkan guru untuk melawan “terorisme” pendidikan?

Terorisme-Kekerasan Kolektif

Jika didengar dan dirasakan memang kata “teroris” identik dengan sebuah pergerakan yang radikal. Jika kata tersebut disandingkan dengan kata “pendidikan” tentu menjadi fenomena yang layak untuk ditindakkritisi. Douglas and Waksler (1982) mengemukakan bahwa terorisme termasuk kekerasan yang bertajuk kolektif. Studi-studi terbaru telah menunjukan bahwa pada umumnya kekerasan kolektif muncul dari situasi konkret yang sebelumnya didahului oleh sharing gagasan, nilai, tujuan dan masalah bersama dalam periode waktu yang lebih lama. Masalah bersama adalah faktor paling penting dan bisa melibatkan perasaan bahaya, dendam atau marah. Suatu masalah langsung bisa memicu suatu pemberontakan massa, tetapi harus ada sejarah bersama yang bisa menentukan langkah bersama. Pemberontakan massa bisa jadi pemicu yang mendorong terjadinya kekerasan, tetapi harus ada semacam semangat kultural bersama agar pemberontakan massa tersebut bisa menjadi pemicu efektif bagi terjadinya kekerasan.

Beberapa sosiolog, terutama Charles, Louise, dan Richard Tilly (1975), menekankan pentingnya “mobilisasi politik” yang bisa membuat benih gerakan masa semakin besar dan bisa membuat suatu revolusi lebih berhasil. Akan tetapi, banyak sosiolog menyetujui analisis Ted Robert Gurr (1970) yang menyatakan bahwa individu yang memberontak yang sebelumnya harus memiliki latar belakang situasi seperti terjadinya ketidak adilan, munculnya kemarahan moral, dan kemudian memberi respons dengan kemarahan pada sumber penyebab kemarahan tersebut.

Terorisme sesungguhnya merupakan topik yang sangat sulit dipelajari dari segi netralitas nilai. Istilah terorisme mengandung suatu penilaian, yang dalam riset ilmu sosial dan media massa dimaksudkan dengan segala bentuk kekerasan yang terinspirasi secara politik yang dilakukan oleh sumber tidak resmi tertentu. Kekerasan yang terinspirasi secara politik yang dilakukan oleh petugas publik resmi tidak termasuk dalam definisi ini, meskipun bila perbedaan satu-satunya antara kedua aktivitas ini adalah status resmi dan tidak resmi pelaku terorisme (Santoso, 2002:17).

Beberapa pandangan tentang terorisme muncul dari studi kasus-studi kasus sejarah dan laporan orang dalam kelompok teroris. Banyak jenis kekerasan disebut “terorisme”, namun definisi menyeluruh yang sangat berguna dalam tujuan ilmiah berasal dari karya definisional yang dibuat Yonah Alexsander. Ia menyimpulkan (1976: 3) bahwa definisi kedua dari dua definisi yang tercantum dalam kamus Inggris Oxford sesuai dengan fenomena khusus yang paling banyak digunakan orang bila mereka berbicara tentang terorisme di zaman sekarang. Terorisme adalah “suatu kebijakan yang dimaksudkan untuk menyerang dengan terror kepada mereka yang terhadapnya tindakan tersebut dilakukan; penggunaan metode intimidasi; fakta berupa penteroran atau kondisi diteror”. Penggunaan kekerasan aktual dipandang sebagai ancaman efektif bagi kekerasan akan datang, karena ia menjelaskan bahwa ancaman seseorang bukan omong kosong dan pengancam telah siap untuk mewujudkan ancamannya.

Riset telah menunjukan bahwa unsur penting terorisme, yang membuatnya menjadi suatu strategi yang demikian kuat dalam situasi tertentu, adalah efektivitasnya dalam menimbulkan kondisi kekuatan yang sangat menonjol meskipun terhadap mereka yang tidak secara langsung atau secaras kebetulan menjadi objek serangan teroris. Para teroris biasanya memusatkan serangan mereka pada bentuk tindakan yang sangat spesifik yang bisa dialami oleh segmen publik yang sangat luas sebagai suatu ancaman pribadi kepada anggota masyarakat tersebut. Sifat serangan yang acak, dalam kaitanya dengan waktu dan tempat terjadinya, memperbesar kekuatan yang dirasakan oleh objek potensial suatu serangan. Karena tidak bisa meramalkan kepada siapa, dimana atau kapan serangan itu terjadi, maka bisa saja serangan itu menimpa saya! Inilah yang dirasakan oleh orang yang berhasil dipengaruhi oleh kampanye teroris, sehingga hanya dengan tindakan yang agak persuasif parateroris dengan mudah mendapatkan tuntutannya. Probabilitas untuk disakiti atau dibunuh oleh serangan seperti ini bisa saja kecil, tapi keacakan dan ketidakmampuan untuk tidak membuat prediksi akurat bagi peluang seseorang untuk bebas dari serangan membuat teror semakin bertambah.

Terorisme Pendidikan

Jika kita mencoba menarik benang merah dari konsep dasar yang sedemikian plural tentang terorisme yang ternyata merupakan kekerasan kolektif, kemudian menghubungkannya dengan praktik pendidikan di negeri kita, tentu kita akan mendapatkan berbagai kondisi yang identik dengan kegiatan terorisme.

Sejujurnya, terorisme pendidikan sudah berlangsung sejak lama. Bahkan, merupakan warisan nenek moyang pendidikan zaman dulu. Secara makro kita (baca: pelaksana pendidikan di lapangan) tidak bisa menolak dan bersembunyi dari kebijakan yang berlabel keharusan melaksanakan, membeli, dan atau pun kegiatan “ewuh pakewuh” yang kesemuanya jelas bertentangan dengan hati nurani.

Sekadar mengingatkan saja, di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal saat ini sedang gencar-gencarnya “memaksa” sekolah untuk melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Secara konsep, ide, dan gagasan (saya) sependapat dengan model KTSP. Tetapi, sampai pada tataran aplikatif (bagi saya) kebijakan pemberlakuan KTSP secara massal merupakan praktik “terorisme” pendidikan.

Guru bukan pawang, yang harus (dipaksa) bekerja dalam hitungan hari dan harus berhasil. Guru adalah “koki”. Ia adalah peramu dan pendesain proses pembelajaran. Mana mungkin, guru harus melaksanakan KTSP, sementara racikan dan olahannya tempo hari (baca: KBK) belum memberikan hasil yang maksimal dan belum dinikmati stakeholders pendidikan?

Guru bukan robot, yang bisa diprogram untuk bergerak ke sana kemari sesuai dengan kehendak pemegang remote control. Guru adalah sosok yang dinamis. Guru bukan “pion”, tapi “ster” dalam permainan catur yang bebas bergerak ke semua lini.

Persoalannya adalah guru merasa enjoy dijadikan robot, pion, pawang, dan terlibat dalam “terorisme” pendidikan. Dalam konteks mikro, guru ada kalanya terlibat dalam kegiatan terorisme pendidikan, seperti suka mengancam siswa, guru LKS, guru “MP”, guru memaksa siswa membeli buku, manipulasi data, tak paham kurikulum, sinis inovasi, bersikap sendhika dhawuh untuk hal-hal yang sebenarnya perlu dikaji lebih mendalam, memilih hal-hal yang instant dalam pembelajaran, dan sejenisnya.

Padahal, Fullan & Stiegerbauer (1991:33) dalam ”The New Meaning of Educational Change” mencatat bahwa setiap tahun guru berurusan dengan sekitar 200.000 jenis urusan dengan karakteristik yang berbeda dan itu merupakan sumber stres bagi mereka. Mungkin tak aneh bila dilaporkan banyak guru mengalami stres dan jenuh (burnout).

Guru perlu mengajari anak agar memiliki keberanian. Prasetyo (2006:193) mengatakan “Guru ajari anak kami beberanian. Jangan kau jadikan anak-anak kami menjadi seorang penakut. Takut terhadap penderitaan, takur menetang penindasan, dan takut berbuat kebenaran. Jangan kau jadikan muridmu sosok yang kerdil dalam pemikiran. Kemampuannya hanya meniru, menjiplak, dan menyontek apa yang dilakukan di luar sana”.

Cara Pandang Profesi Guru

Di tengah-tengah maraknya praktik “terorisme” pendidikan, ada baiknya guru memaknai profesi yang digelutinya secara holistik. Menurut Kiyosaki (2001) cara pandang terhadap profesi guru menyebabkan terbentuknya kuadran-kuadran

Kuadran I: Kita disebut guru pekerja, bila kita termasuk guru yang menyukai kemapanan, tidak ada keinginan untuk berubah. Kita senang dengan pekerjaan rutinitas yang menjadi tanggung jawab kita. Perilaku kita tampak oleh mengajar dengan cara yang sama tentang hal yang sama kepada orang yang berbeda. Pada kudaran ini kita memiliki paradigma to have. Kita adalah orang yang berada dalam sistem yang sudah mapan. Sumber penghasilan kita adalah satu-satunya gaji/honor bulanan/mingguan ditambah dari proyek-proyek skala kecil dan rutin.

Kuadran II: Kita dikatakan guru profesional, bila kita termasuk guru yang menyukai tantangan dalam mengajar. Senang dengan pekerjaan yang mandiri, tidak rutin tapi memuaskan, senang berpindah tempat kerja dengan pekerjaan yang sama. Perilaku kita tampak oleh mengajar dengan cara yang sama tentang hal yang berbeda kepada orang yang berbeda. Pada kuadran ini kita mulai mengalami pergeseran pradigma tetapi masih pada konsep to have. Kita menjadi sistem bagi diri kita sendiri. Sumber penghasilan kita adalah sebagai profesional yang memiliki nilai (harga) setiap kali kita mengajar.

Kuadran III: Kita dikatakan guru pemilik bila kita adalah guru yang memiliki keahlian (pemilik), tidak hanya terkait dengan pengajaran tetapi juga memiliki kemampuan mengendalikan sistem, sehingga pemilik menjadi bagian dari kelompok pengambil keputusan. Senang dengan peran sebagai investor dan atau pimpinan dengan tujuan mendapatkan penghasilan dari investasi/tugas tersebut. Kita adalah orang yang menjalankan sistem secara strategis, untuk mengendalikan diri dan orang lain bagi kemajuan lembaga. Pada kuadran ini kita mengalami pergeseran paradigma yang sangat jelas dari to have ke to be. Sumber penghasilan kita adalah dari keahlian dan sistem yang kita kendalikan.

Kuadran IV:Kita dikatakan guru perancang, bila kita adalah guru yang berfungsi sebagai perancang masa depan pengajaran, bersifat inovatif, senang pada ide dan perubahan yang mengaktifkan pengajaran. Kita adalah orang yang kaya dengan ide/gagasan yang inovatif yang menjadikan kita orang yang sangat berarti. Kita menjadi perancang sistem bagi kemajuan diri dan masa depan orang lain. Pada kuadran ini menunjukan bahwa pergeseran paradigma kita sudah sepenuhnya ke kuadran to be. Sumber penghasilan kita adalah dari sistem dan gagasan yang diterapkan banyak orang. Ide dan gagasan bekerja untuk menghasilkan uang bagi kita.

Pilar Pembangun Karakter

Teorisme pendidikan memang sudah terjadi. Dalam berita kecil di internet yang saya lontarkan, sungguh mendapatkan tanggapan yang luar biasa. Sebagian besar mereka memberi tanggapan bahwa terorisme pendidikan benar-benar ada di negeri kita. Akankah kita berdiam diri? Apa yang harus kita lakukan? Meminjam istilah Dani Ronnie (2005) setidaknya ada 16 (enam belas) hal yang dapat kita lakukan untuk membangun karakter agar kita memiliki bekal dalam menghadapi terorisme pendidikan, yang mencakupi:

1. Kasih Sayang

Kasih sayang adalah kekuatan. Kasih sayang adalah kekuasaan. Kasih sayang adalah pengaruh. Dia sanggup menyembuhkan segala resah dan kegalauan hati siapa pun. Dia sanggup merubuhkan tembok-tembok pertentangan.

2. Penghargaan

Penghargaan yang tulus datang dari hati akan membuat siswa belajar cara menghargai orang lain. Kebanggaan siswa atas pujian guru yang tulus, memicu mereka untuk belajar lebih banyak dan lebih banyak lagi secara suka cita. Guru harus mampu membuat siszwa menjadi seorang pembelajar sejati yang mencari sendiri hakikat sebuah ilmu.

3. Pemberian Ruang untuk Pengembangan Diri

Salah satu tanda seorang guru yang hebat adalah kemampuannya memimpin siswanya menjelajahi tempat-tempat baru yang bahkan dia sendiri belum pernah ke sana. Sebagai guru selayaknya peka terhadap kelebihan siswa kita.

4. Kepercayaan

Kepercayaan adalah value positif yang sangat diperlukan untuk sesuatu keberhasilan dalam proses pembelajaran. Kepercayaan yang diberikan oleh guru kepada siswanya akan membangkitkan keyakinan pada diri mereka.

5. Kerjasama

Bekerja sama antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, mutlak diperlukan dalam upaya memperkaya khasanah batin siswa dan guru. Di dalam proses pembelajaran di kelas,kita diharapkan untuk terus-menerus mencoba sesuatu yang baru. Sesuatu yang kreatif dan inovatif di luar zona nyaman (comfort zone) agar pembelajaran tidak berjalan monotonous, yang akhirnya menimbulkan kebosanan di kelas.

6. Saling Berbagi

Saling berbagi sangat penting dalam perkembangan kepribadian siswa. Win Winger (2003) dalam bukunya Beyond Teaching and Learning mengatakan bahwa keuntungan dari kebiasaan siswa saling berbagi adalah mempunyai peluang atau kecenderungan kecil melakukan tindak kekerasan fisik karena dorongan hatinya.

7. Saling Memotivasi

Motivasi datang dari segala sumber. Bisa dari diri sendiri, teman, dan guru. Motivasi yang berasal dari orang lain berupa penerimaan, pengakuan, dan penghargaan yang tulus.

8. Saling Mendengarkan

Mampu mendengarkan orang lain dengan sikap simpatik dan penuh pengertian merupakan mekanisme paling efektif di dunia untuk memiliki hubungan baik dengan orang dan menjalin persahabatan yang abadi.

9. Saling Berinteraksi Secara Positif

Orang yang berhasil biasanya memiliki karakter-karakter unggul dalam bersosialisasi dengan lingkungan pergaulannya. Kehangatan sikap, intonasi bicara, ekspresi yang menarik, cara pandangnya terhadap siapa pun di luar dirinya, menggambarkan sebuah karakter yang luar biasa.

10. Saling Menanamkan Nilai-nilai Moral

Nilai-nilai moral sangat penting ditanamkan pada diri siswa, tentunya dimulai dari teladan guru. Teladan sikap merupakan pengejawantahan dari beribu kata yang diucapkan.

11. Saling Mengingatkan dengan Ketulusan Hati

Setiap individu berkewajiban untuk saling memberi tahu dan mengingatkan dengan arif kepada sesamanya untuk terus bersikap positif dan konstruktif dalam menyikapi segala hal.

12. Saling Menularkan Antusiasme

Ada keajaiban sejati dalam antusiasme. Dia membedakan antara orang kebanyakan dan orang sukses. Kesuksesan yang dicapai oleh setiap orang tentu saja diawali dengan sebuah antusiasme yang besar.

13. Saling Menggali Potensi Diri

Potensi siswa harusnya mampu kita gali melalui jenjang pendidikan yang mereka lalui bertahun-tahun, sehingga pada saatnya akan benar-benar terlahir generasi yang mampu mengatasi beraneka ragam permasalahan.

14. Saling Mengajar dengan Kerendahan Hati

Pemahaman akan sebuah pengetahuan akan lebih efektif setelah kita mentransfernya kepada orang lain dengan kerendahan hati.

15. Saling Menginspirasi

Inspirasi sungguh merupakan energi jiwa yang menggerakkan setiap individu untukmelakukan sesuatu. Tanpa inspirasi sekecil apa pun, tidak mungkin akan tercipta sebuah karya.

16. Saling Menghormati Perbedaan

Keunikan setiap individu di kelas membuat kelas penuh warna, lebih bercorak, dan indah. Perbedaan itu adalah anugerah. Keberagamaan adalah bumbu penyedap kehidupan.

Penutup

Teorisme pendidikan mengandung makna konotasi yang cukup ironis bahkan sarkasme ketika kita mencoba untuk menindakkritisi fenomena aktual yang berkembangan dalam dunia pendidikan. Munculnya berbagai upaya dan kebijakan yang bermuara pada munculnya kegelisahan guru merupakan refleksi dari awalnya terorisme pendidikan.

Terorisme pendidikan yang lebih dekat dengan sebuah “kekerasan” kolektif bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Bahkan, stakeholders pendidikan termasuk kita merupakan bagian kecil dari berbagai kegiatan yang bertajuk kegelisahan dan ketakutan.

Karenanya, belajar menerapkan 16 pilar pembangun karakter setidaknya merupakan bekal dan sekaligus obat untuk mengantisipasi menjamurnya “terorisme” di negeri kita pada umumnya dan pada hati nurani kita pada khususnya.

Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka:

Douglas, Jack & Waksler,Frances Chaput.1982. The Sosiology of Deviance. Boston: Little Brown and Company.

Fullan & Stiegerbauer.1991. The New Meaning of Educational Change. Boston: Houghton Mifflin Company.

Prasetyo, Eko. 2006. Guru: Mendidik Itu Melawan!. Yogyakarta: Resist Book.

Ramli, Amir Teungku. 2005. Menjadi Guru Kaya. Jakarta: Pustaka Inti.

Ronnie, Dani. 2005. Seni Mengajar dengan Hati (Don’t Be A Teacher Unless You have Love to Share. Jakarta: Gramedia.

Santoso, Thomas. 2002. Teor-teori Kekerasan. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Kiyosaki, T. Robert. 2001. The Cashflow Quadrant, Panduan Ayah Kaya Menuju Kebebasan Finansial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Winger, Win. 2003. Beyond Teaching and Learning. Penerjemah: Ria Sirait. Bandung: Nuansa.


Responses

  1. Saya setuju bahwa guru merupakan sumber ìnspirasi bagi siswa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: