Oleh: trieelangsutajaya2008 | Juli 13, 2008

Guru Profesional dalam Kegelisahan Pendidikan

oleh: Trimo, S.Pd.,M.Pd.

(Dosen IKIP PGRI Semarang)

Prolog:

Membicarakan pendidikan di negara Indonesia ibarat bermain “petak umpet”. Bagaimana tidak? Reformasi dan transformasi pendidikan yang diharapkan selalu menjadi sebuah lingkaran, tanpa ada titik temu. Ironisnya, ketika subtansi pendidikan berada dalam titik ketergantungan yang tinggi, para pengelola kebijakan pendidikan menjadi lupa akan harapan dan tujuan sebuah program yang dirumuskan. Mereka memilih lari dari tanggung jawab daripada berada dalam ketergantungan, dan membuat kebijakan baru yang lebih spektakuler agar orang menjadi lupa dan terkonsentrasi terhadap kebijakan barunya.

Mirip “puisi tak terkuburkan” Garin Nugroho, dunia pendidikan kita telah melakonkan kepedihan yang hampir tak tersuarakan, akan tetapi desis bisikan kepedihan ini harus berbunyi juga. Selalu ada yang menggelitik ketika mencoba menarik benang merah sebuah kata “guru”. Dalam filsafat Jawa, guru lebih dikenal dengan sosok digugu dan ditiru. Di mata masyarakat guru dipandang sebagai figur yang “serba mumpuni”. Apalagi di mata siswa, guru dipandang sebagai orang yang selalu dihormati dan perkataannya dianggap paling benar.

Mutu Pendidikan:

Rendahnya mutu pendidikan menjadi masalah utama yang perlu segera diantisipasi. Berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang merata. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu yang cukup menggembirakan, namun Sebagian lainnya masih memprihatinkan. Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.

Pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan educational production function yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipilih semua input (masukan) yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga ini akan menghasilkan output yang dikehendaki. Dalam kenyataan, mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi, mengapa? Karena selama ini dalam menerapkan pendekatan education production function terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan. Padahal, proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan.

Kedua, penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik, sehingga sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi, yang kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Dengan demikian sekolah kehilangan kemandirian, motivasi, dan inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional.

Ketiga, peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim. Partisipasi masyarakat pada umumnya selama ini lebih banyak bersifat dukungan dana, bukan pada proses pendidikan (pengambilan keputusan, monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas). Berkaitan dengan akunfabilitas, sekolah tidak mempunyai beban untuk mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan pendidikan kepada masyarakat, khususnya orang tua siswa, sebagai salah satu pihak utama yang berkepentingan dengan pendidikan.

Critical Fenomena:

Saat ini, dunia pendidikan yang dihadapi guru adalah dunia global tanpa batas. Semua guru tahu dan mengerti tentang mengglobalnya dunia dengan segala pengaruh yang ditimbulkannya. Ironisnya, ada kecenderungan guru kurang tanggap terhadap berbagai perubahan. Guru hanya mencukupkan dirinya untuk tahu tapi enggan untuk menelaah secara mendalam ketahuannya. Ada guru yang sinis terhadap inovasi tapi suka menganggukkan kepala tanda setuju tanoa mengkaji secara mendalam makna anggukkan kepala tersebut. Demikian juga, guru lebih senang “nggrundel” saat datang sebuah perubahan tanpa mencerna makna perubahan tersebut.

Ada guru yang lebih suka menggunakan LKS (baca: Lembar Kesengsaraan Siswa) tanpa melalui proses pembelajaran yang bermakna. Dengan LKS, materi pelajaran bisa diselesaikan dalam sekejap.

Ada guru yang lebih senang menggunakan “ancaman” untuk mengingatkan siswa daripada menerapkan teknik-teknik profesionalnya saat dididik jadi guru.

Ada guru yang lebih bangga menjadi satu-satunya sumber belajar tanpa berpikir perlunya berinteraksi dengan “makhluk” lain di luar dirinya. Menjadi pewarta materi dengan siswa yang duduk tenang tanpa perlawanan, sering menjadi kebanggaannya. Padahal keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran merupakan conditio sine qua non.

Ada guru yang lebih senang menyimpan alat peraga secara rapi daripada memanfaatkan alat tersebut untuk kepentingan proses pembelajaran. Padahal guru sudah mempelajari teori Piaget saat sekolah guru bahwa menurut psikologi kognitif anak-anak Sekolah Dasar berada pada tahap operational konkret. Pada tahapan ini, anak mulai mampu mengatasi masalah yang bersifat konkret, belum mampu mengatasi masalah yang bersifat abstrak.

Ada guru yang lebih senang melakukan manipulasi data khususnya dalam pengerjaan nilai. Dalam konteks ini, konon guru tidak perlu dilatih karena sudah memiliki keterampilan “memanipulasi” yang diperoleh dari pengamatan turun-temurun. Ada guru yang lebih menggunakan sesuatu produk pembelajaran bersifat “instan” daripada berlatih mendesain sendiri sebagai tanda aktualisasi kompetensi guru

Ada guru yang tidak mau belajar membuat karya ilmiah dan memilih golongannya mentok di IVA sehingga merasa “bebas administrasi”. Ada guru yang menggunakan siswanya sebagai objek “les privat” dan memberikan perhatian khusus bagi siswa yang mengikuti les privatnya. Ada guru lainnya yang dapat dikaji secara mendalam, yang muaranya pada kurangnya guru peduli terhadap pendidikan dalam konteks mikro (pembelajaran) dan konteks makro (pendidikan anak negeri).

Namun, di antara yang kurang peduli terhadap pendidikan setidaknya masih banyak guru yang peduli terhadap pendidikan walaupun kapasitasnya belum optimal.

Guru Bukan Pawang:

Guru bukan pawang, yang harus (dipaksa) bekerja dalam hitungan hari dan harus berhasil. Guru adalah “koki”. Ia adalah peramu dan pendesain proses pembelajaran. Mana mungkin, guru harus melaksanakan KTSP, sementara racikan dan olahannya tempo hari (baca: KBK) belum memberikan hasil yang maksimal dan belum dinikmati stakeholders pendidikan?

Guru bukan robot, yang bisa diprogram untuk bergerak ke sana kemari sesuai dengan kehendak pemegang remote control. Guru adalah sosok yang dinamis. Guru bukan “pion”, tapi “ster” dalam permainan catur yang bebas bergerak ke semua lini.

Persoalannya adalah guru merasa enjoy dijadikan robot, pion, pawang, dan terlibat dalam “terorisme” pendidikan. Dalam konteks mikro, guru ada kalanya terlibat dalam kegiatan terorisme pendidikan, seperti suka mengancam siswa, guru LKS, guru “MP”, guru memaksa siswa membeli buku, manipulasi data, tak paham kurikulum, sinis inovasi, bersikap sendhika dhawuh untuk hal-hal yang sebenarnya perlu dikaji lebih mendalam, memilih hal-hal yang instant dalam pembelajaran, dan sejenisnya.

Padahal, Fullan & Stiegerbauer (1991:33) dalam ”The New Meaning of Educational Change” mencatat bahwa setiap tahun guru berurusan dengan sekitar 200.000 jenis urusan dengan karakteristik yang berbeda dan itu merupakan sumber stres bagi mereka. Mungkin tak aneh bila dilaporkan banyak guru mengalami stres dan jenuh (burnout).

Guru perlu mengajari anak agar memiliki keberanian. Eko Prasetyo (2006:193) mengatakan “Guru ajari anak kami beberanian. Jangan kau jadikan anak-anak kami menjadi seorang penakut. Takut terhadap penderitaan, takur menetang penindasan, dan takut berbuat kebenaran. Jangan kau jadikan muridmu sosok yang kerdil dalam pemikiran. Kemampuannya hanya meniru, menjiplak, dan menyontek apa yang dilakukan di luar sana”.

Sertifikasi Guru:

Pasca pelaksanaan sertifikasi guru yang sudah dilaksakan beberapa tahap menimbulkan kegembiraan dan kegelisahan yang mendalam bagi guru. Kegembiraan jelas terpampang di wajah guru yang dinyatakan lolos sertifikasi lantaran ”iming-iming” satu kali gaji pokok di depan mata. Kegelisahan dirasakan oleh guru-guru yang belum dinyatakan lolos oleh asesor. Ada yang geram lantaran menurut penilaian guru yang tidak lolos, teman guru yang tidak pernah aktif dalam kegiatan tapi bisa lolos sertifikasi. Ada pula yang menyadari guru yang tidak lolos tersebut karena tidak sungguh-sungguh dalam menyiapkan berkas portofolio.

Trianto dan Titik Triwulan Tutik (2007:2) mengelompokkan guru menjadi 3 (tiga) kategori yakni: (1) mereka yang tidak ambil pusing dengan adanya sertifikasi, (2) guru yang sangat mendambakan sertifikasi, dan (3) mereka yang pesimis dan tidak terlalu percaya dengan iming-iming tunjangan profesi.

Banyak cerita menarik ketika sertifikasi mulai digulirkan oleh ”negeri” pendidikan kita. Ada guru yang merasa senang ketika terdata dalam sertifikasi, ada guru yang bingung saat terdata, dan ada juga guru yang masa bodoh terhadap aktivitas tersebut. Bahkan ada guru yang kecewa lantaran namanya tidak termasuk dalam daftar guru yang tersertifikasi. Ada juga guru yang sakit (bahkan diopname) saat kelelahan mengumpulkan berkas.

Ada juga guru yang pesimis terhadap proses sertifikasi (paling-paling pemerintah ingkar janji). Sekadar mengingatkan saja, ”uang lauk-pauk” yang konon tidak seberapa itu, sampai detik ini masih ”digantung” (bagaimana dengan dana untuk sertifikasi?).

Biro jasa sertifikasi pun seperti ”jamur” di musim penghujan. Hampir di setiap sudut Kecamatan muncul biro jasa. Ada yang menyiapkan berbagai penelitian tindakan kelas ”sulapan”, piagam diklat ”sulapan”, sampai pada kejuaraan ”sulapan” tempo dulu.

Cerita lain dari sudut pandang asesor, pada awal mereka (baca:asesor) bertugas menilai berkas portofolio, belum ada keseragaman persepsi dalam penilaian. Ada asesor yang ”kikrik” dalam menilai, ada juga asesor yang ”baik hati” (asal ada cap-nya dinilai), dan ada juga asesor yang ”bertengkar”.

Persoalannya adalah benarkah pemberian sertifikat pendidikan bagi guru dapat meningkatkan kinerja? Mungkinkan pemerintah mampu mengeluarkan anggaran yang ”tidak masuk akal” itu secara berkelanjutan? Jangan-jangan, program sertifikasi akan bernasib sama dengan program-program inovasi yang tak berbekas sebelumnya?

Cara Pandang Profesi Guru:

Di tengah-tengah maraknya praktik “terorisme” pendidikan, ada baiknya guru memaknai profesi yang digelutinya secara holistik. Menurut Robert Kiyosaki (2001) cara pandang terhadap profesi guru menyebabkan terbentuknya kuadran-kuadran.

Kuadran I, Kita disebut guru pekerja, bila kita termasuk guru yang menyukai kemapanan, tidak ada keinginan untuk berubah. Kita senang dengan pekerjaan rutinitas yang menjadi tanggung jawab kita. Perilaku kita tampak oleh mengajar dengan cara yang sama tentang hal yang sama kepada orang yang berbeda. Pada kudaran ini kita memiliki paradigma to have. Kita adalah orang yang berada dalam sistem yang sudah mapan. Sumber penghasilan kita adalah satu-satunya gaji/honor bulanan/mingguan ditambah dari proyek-proyek skala kecil dan rutin.

Kuadran II, kita dikatakan guru profesional, bila kita termasuk guru yang menyukai tantangan dalam mengajar. Senang dengan pekerjaan yang mandiri, tidak rutin tapi memuaskan, senang berpindah tempat kerja dengan pekerjaan yang sama. Perilaku kita tampak oleh mengajar dengan cara yang sama tentang hal yang berbeda kepada orang yang berbeda. Pada kuadran ini kita mulai mengalami pergeseran pradigma tetapi masih pada konsep to have. Kita menjadi sistem bagi diri kita sendiri. Sumber penghasilan kita adalah sebagai profesional yang memiliki nilai (harga) setiap kali kita mengajar.

Kuadran III, kita dikatakan guru pemilik bila kita adalah guru yang memiliki keahlian (pemilik), tidak hanya terkait dengan pengajaran tetapi juga memiliki kemampuan mengendalikan sistem, sehingga pemilik menjadi bagian dari kelompok pengambil keputusan. Senang dengan peran sebagai investor dan atau pimpinan dengan tujuan mendapatkan penghasilan dari investasi/tugas tersebut. Kita adalah orang yang menjalankan sistem secara strategis, untuk mengendalikan diri dan orang lain bagi kemajuan lembaga. Pada kuadran ini kita mengalami pergeseran paradigma yang sangat jelas dari to have ke to be. Sumber penghasilan kita adalah dari keahlian dan sistem yang kita kendalikan.

Kuadran IV, kita dikatakan guru perancang, bila kita adalah guru yang berfungsi sebagai perancang masa depan pengajaran, bersifat inovatif, senang pada ide dan perubahan yang mengaktifkan pengajaran. Kita adalah orang yang kaya dengan ide/gagasan yang inovatif yang menjadikan kita orang yang sangat berarti. Kita menjadi perancang sistem bagi kemajuan diri dan masa depan orang lain. Pada kuadran ini menunjukan bahwa pergeseran paradigma kita sudah sepenuhnya ke kuadran to be. Sumber penghasilan kita adalah dari sistem dan gagasan yang diterapkan banyak orang. Ide dan gagasan bekerja untuk menghasilkan uang bagi kita.

Percik Pemikiran:

Pepatah mengatakan: “kegemilangan masa depan tergantung apa yang diperbuat hari ini”. Secara implisit hal tersebut dapat dikonotasikan bahwa keberhasilan peningkatan mutu pendidikan di masa depan sangat tergantung pada stake holder pendidikan yang meliputi: pendidik, peserta didik, masyarakat, institusi, sarana dan prasarana, pengelolaan dan, dan sebagainya.

Memaksimalkan komponen-komponen stake holder dalam pendidikan bukanlah hal yang mudah. Hal ini karena keberadaan-keberadaan komponen tersebut saling melengkapi. Ibarat sebuah sistem komponen-komponen tersebut perlu dikembangkan secara integratif melalui pendekatan sistem.

Pendekatan sistem dapat digunakan sebagai suatu pendekatan dalam memecahkan permasalahan yang paling sederhana sampai pada tingkat permasalahan yang paling kompleks, khususnya dalam peningkatan mutu pendidikan. Persoalan-persoalan yang mengemuka dalam dunia pendidikan dan merupakan tantangan pendidik di masa datang harus diselesaikan secara sistemik, analitik, dan sistematik.

Sistemik dalam arti permasalahan pendidikan harus dilihat dari konteks keseluruhan. Analitik dalam pengertian permasalahan dalam dunia pendidikan perlu dianalisis sebab dan akibatnya dikaitkan dengan berbagai masalah yang ada, baik di dalam maupun di luar sistem. Sedangkan sistematik dalam arti cara kerja dalam penyelesaian permasalahan harus beraturan atau runtut. Hal ini dapat dilihat dari proses kegiatannya, yaitu perumusan masalah, penelitian, penilaian, penelaahan, pemeriksaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan.

Permasalahan yang mengemuka dalam dunia pendidikan memang sangat kompleks dan sporadis. Oleh karena itu, di masa datang seorang pendidik harus tanggap sasmita terhadap arus reformasi dan transformasi pendidikan.

Ada beberapa percik pemikiran sederhana dari penulis dan perlu diperhatikan pendidik, dalam mengantisipasi tantangan pendidikan di masa datang.

Pertama, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi yang sedemikian cepat sudah barang tentu berdampak positif dan negatif bagi kehidupan manusia. Kenakalan remaja dan pengaruh narkoba merupakan tantangan utama dalam menumbuhkembangkan peserta didik agar menjadi generasi muda penerus perjuangan bangsa yang tatag tanggon, tinatah mendat, jinoro menter, yakni anak bangsa yang cerdas berbudaya dan memiliki jiwa dan pengabdian yang kuat. Dalam konteks ini, pendidik diharapkan memaksimalkan perannya sebagai “guru” dan menjadi suri teladan bagi peserta didiknya (Trimo, 2002).

Kedua, guru masa depan perlu memiliki wawasan jauh kedepan (visi) dan tahu tindakan apa yang harus dilakukan (misi) serta paham benar tentang cara yang akan ditempuh (strategi) (Suyanto, 2000).

Ketiga, guru masa depan perlu memiliki toleransi terhadap perbedaan pada setiap orang dan tidak mencari orang-orang yang mirip dengannya, akan tetapi sama sekali tidak toleran terhadap orang-orang yang meremehkan kualitas, prestasi, standar, dan nilai-nilai.

Keempat, guru masa depan perlu menggunakan “pendekatan sistem” sebagai dasar cara berpikir, cara mengelola, dan cara menganalisis kehidupan sekolah, yaitu berpikir secara benar dan utuh, berpikir secara runtut (tidak meloncat-loncat), berpikir secara holistik (tidak parsial), berpikir multi-inter-lintas disiplin (tidak parosial), berpikir entropis (apa yang diubah pada komponen tertentu akan berpengaruh terhadap komponen-komponen lainnya); berpikir “sebab-akibat” (ingat ciptaan-Nya selalu berpasang-pasangan); berpikir interdipendensi dan integrasi, berpikir eklektif (kuantitatif + kualitatif), dan berpikir sinkretisme.

Kelima, guru masa depan perlu memahami, menghayati, dan melaksanakan dimensi-dimensi tugas (apa), proses (bagaimana), lingkungan, dan keterampilan personal, yang dapat diuraikan sebagai berikut: (a) dimensi tugas terdiri dari: pengembangan kurikulum, manajemen personalia, manajemen kesiswaan, manajemen fasilitas, pengelolaan keuangan, hubungan sekolah-masyarakat, dsb; (b) dimensi proses, meliputi pengambilan keputusan, pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, pengkoordinasian, pemotivasian, pemantauan dan pengevaluasian, dan pengelolaan proses belajar mengajar; (c) dimensi lingkungan meliputi pengelolaan waktu, tempat, sumberdaya, dan kelompok kepentingan; dan (d) dimensi keterampilan personal meliputi organisasi diri, hubungan antar manusia, pembawaan diri, pemecahan masalah, gaya bicara dan gaya menulis (Lipham and Norton, 1985).

Keenam, guru masa depan perlu memiliki pendidikan yang setingkat di atas standart minimal yang diharapkan pemerintah. Dalam dunia pendidikan dasar, tenaga pengajar setidaknya harus berbasis pendidikan S1, pendidikan menengah tenaga pengajarnya harus berbasis pendidikan S2, dan perguruan tinggi harus berbasis pendidikan S3. Secara sederhana peningkatan kualifikasi akademik itulah, yang harus dikembangkan oleh tenaga pendidik.

Ketujuh, guru masa depan perlu mempertegas kembali komitmen sebagai pendidik untuk tidak memaksakan pembelajaran yang hanya bermuatan kognitif saja, namun lebih aplikatif sejalan dengan konsep pembelajaran learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be (Tilaar, 2000). Paradigma ini mensyaratkan pendidik untuk all round dalam proses belajar-mengajar, sehingga mampu mensinergikan konsep life skill yang nantinya merupakan modal utama peserta didik untuk terjun ke masyakarat.

Kedelapan, guru masa depan tidak boleh gaptek (gagap teknologi) sehingga perlu belajar aplikasi teknologi (handpone, televisi, media massa, komputeri, internet, dll).

Kesembilan, guru masa depan perlu menjadi peneliti, penilai, dan penulis (Nugroho,2004:363). Profesi guru adalah proses intelektual yang siklus alaminya mencakupi membaca, mengajar, meneliti, dan menulis secara menerus. Bukan hanya memanfaatkan dan menerapkan hasil penelitian, namun mampu melakukan penelitian, penilaian, dan penulis sesuai dengan bidang tugasnya. Hal ini menjadi penting lantaran penelitian merupakan salah satu bentuk pengembangan profesi.

Kesepuluh, sudah saatnya pemerintah merumuskan sistem penggajian berbasis kinerja bukan masa kerja sehingga ada perbedaan yang cukup signifikan antara guru-guru yang mengajar secara profesional dan tidak profesional. Termasuk pengkajian ”proyek sertifikasi”, bila perlu ”bubarkan sertifikasi” kalau hanya dijadikan ”pelengkap penderita”.

Epilog:

Menjadi guru yang peduli terhadap pendidikan mensyaratkan totalitas cipta, rasa, dan karsa sehingga mampu mengembangkan kompetensi yang dimiliki secara optimal, baik kompetensi personal, professional, dan kemasyarakatan. Kompetensi tersebut mutlak dikembangkan dalam rangka memperkuat sifat konserfatif pada diri guru.

Setelah melewati kesombongan, tidak lagi tergoda berlebih oleh sebutan berhasil, kemudian dipanggil-panggil oleh keheningan, timbul pertanyaan kecil: apa yang bisa ditemukan dalam keheningan? Sebuah pertanyaan wajar di zaman seperti ini. Terutama ketika keraguan menjadi penghalang pemahaman di sana-sini. Tentu keraguan tidak selalu jelek, kerap manusia direm sebentar oleh keraguan, dinyalakan lampu kehati-hatian juga oleh keraguan (Gede Prama, 2006). Namun jujur harus diakui, bila masih ada keraguan itu tanda-tanda manusia masih jauh dari keheningan.

Senja tetap saja senja. Ia akan selalu memberi senyum pada guru-guru yang dengan ikhlas ”sepi ing pamrih rame ing gawe”, menyemaikan tunas-tunas muda harapan bangsa. Kehidupan ini ibarat jalan satu arah. Seberapa banyak pun perubahan rute yang Anda tempuh, tidak satu pun akan membawa Anda kembali. Begitu Anda mengetahui dan menerima hal itu, kehidupan akan tampak menjadi jauh lebih sederhana.

Pustaka Acuan:

Eko Prasetyo. 2006. Guru: Mendidik Itu Melawan!. Yogyakarta: Resist Book.

Fullan & Stiegerbauer.1991. The New Meaning of Educational Change. Boston: Houghton Mifflin Company.

Gede Prama. 2006. Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki Keheningan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Lipham, M. and Norton. 1985. The Principalship: Foundation and Function. New York: Harper & Row, Publisher, Inc.

Nugroho. 2004. Reposisi Peran Guru dalam Praksis Pembelajaran Modern. Bunga Rampai Indonesia Belajarlah. Editor: Agus Salim. Semarang: Gerbang Madani Indonesia.

Robert Kiyosaki. 2001. The Cashflow Quadrant, Panduan Ayah Kaya Menuju Kebebasan Finansial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Suyanto. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III. Yogyakarta: Adicita.

Tilaar, HAR. 2000. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.

Trianto dan Titik Triwulan Tutik. 2007. Sertifikasi Guru dan Upaya Peningkatan Kualifikasi, Kompetensi, dan Kesejahteraan. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Trimo. 2002. Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Pengembangan Profesi. Makalah. Disampaikan dalam Seminar Internasional IKIP PGRI Semarang 2-4 September 2002.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: