Oleh: trieelangsutajaya2008 | Februari 27, 2009

Merakit Tulisan dalam Bentuk Esai dan Opini

oleh: Trimo, S.Pd.,M.Pd.
(Dosen IKIP PGRI Semarang)

Aja Golek Jenang, Goleka Jeneng Dhisik

Prolog:
Saat saya mencoba menuangkan kegelisahan tentang dunia pendidikan yang oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa Jawa IKIP PGRI Semarang diberin tetenger tentang Karya Tulis Ilmiah, saya dikritik anak sulung saya habis-habisan. Kritik yang sampai sekarang belum bisa mengurai karena jawaban yang saya berikan kepada si-sulung belum bisa diterima secara ikhlas. Kritik yang dilontarkan menyangkut kurikulum Bahasa Jawa yang tempo hari sempat direvisi, “Kenapa Kurikulum Bahasa Jawa kok pakai Bahasa Indonesia?
Sebuah tanya yang bagi saya mengkristal menjadi sebuah fenomena yang layak untuk ditindakkritisi. Jika saya mencoba untuk mengurai benang kusut pendidikan khususnya dunia pendidikan “Bahasa Jawa” tentu akan ditemukan seabreg persoalan yang membutukan uluran kita (baca: generasi muda) yang sudah memutuskan untuk menjadi guru bahasa Jawa.
Berbagai fenomena, seperti guru LKS (baca: lembar kesengsaraan siswa), guru bahasa Jawa yang tidak bisa nembang macapat, guru bahasa Jawa yang tidak berani menjadi pranatacara, seolah menjadi deretan gelisah yang tak berujung manakala kita hanya bisa ngelus dhadha.
Banyak cara untuk mencoba apa yang kita lakukan ngelus dadha itu sampai pada yang kita bincangkan. Berbagai pelatihan yang berlabel peningkatan mutu guru Bahasa Jawa sudah sering dilakukan, baik intern maupun ekstern. Namun, pada tataran aplikatif belum mampu memberikan perubahan yang cukup signifikan. Setidaknya, kita perlu mengajak dhadha kita sehingga ketika ketika mengelusnya, dada kita tidak kaget.
Salah satu di antara sekian teknik ngelus dhadha yakni menjadikan diri kita (jika perlu) memaksa diri kita untuk mengemukakan gagasan dalam wujud tekstual. Tulisan sederhana ini merupakan setitik air di padang pasir yang mencoba untuk menelaah tentang latihan mengemukakan gagasan dalam bentuk essay dan opini.

Content:
Batas definisi antara essay (dalam bahasa Indonesia esai) dan opini sangat tipis sekali. Essay (dalam bahasa Indonesia esai) adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya (KBBI, 2005:308). Esai lebih bersifat persuatif dan intuitif. Contoh esai adalah tulisan Butet Kertarajasa atau Darmanto Jatman di pojok kiri Suara Merdeka, atau tulisan-tulisan Sucipto Hadi Purnomo dan Suwardi Endraswara di kolom Sang Pamomong di Suara Merdeka.
Opini adalah pendapat, pikiran, pendirian (KBBI, 2005:800). Opini adalah karya tulis yang disusun untuk mengungkapkan pendapat seorang penulis atas suatu fakta/data/ pendapat orang lain berdasarkan rangkaian logika tersendiri. Sebuah opini cenderung bersifat argumentatif. Contoh opini artikel saya “Mengagas Sekolah Model” di Suara Merdeka, Implementasi Bahasa Daerah dalam Tingkah Laku Siswa di tabloid Inspirator, atau Pemberian Vitamin “D” bagi Kepala Sekolah, dan sejenisnya.
Teknik Menulis Esai dan Opini:
Sebenarnya tidak ada teori khusus manakala kita hendak menulis esai dan opini. Persoalan adalah “desa mawa cara, negara mawa tata, nulis mawa swara”. Artinya, setiap orang memiliki gaya penulisan yang khas sehingga kadang ketika kita membaca sebuah tulisan di media massa, kita berkomenter lirih “kayak gitu aja kok dimuat”.
Lantas sebenarnya senjata pamungkas apa yang bisa di siapkan saat kita menulis? Jawabannya sederhana, kemauan (bukan kemampuan). Tips yang sangat mudah ketika kita hendak menyusun huruf A-Z agar menjadi kata dan kalimat yang bermakna adalah: “mulailah menulis ketika kita sedang malas melakukan”. (mesti ora padha setuju jalaran padatan wong nulis yen lagi mood).
Tulisan ini tidak mengajak panjenengan untuk mengikuti alur kegelisahan saya. Hal ini disebabkan sudah banyak orang “berjanji” ingin berubah dalam artian latihan menulis tapi sampai detik ini masih tidur.
Namun demikian, berbagai pengalaman saya yang sampai detik ini masih berkecimpung dalam dunia tulis menulis (bahkan menjadi mata pencaharian) dapat dijadikan keca benggala bahwa menulis itu ternyata mudah (tinggal molak-malik huru A-Z).
Jika kita menulis apa pun (esai atau opini) yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah mencermati tema. Tema apa yang hendak kita bidik (bukan judul). Ketika kita menyusun judul terlebih dahulu, otak kita akan terfokus pada judul sehingga kupasan kita tentang tema yang sudah mengalir dalam alam karya kita menjadi linear. Biarkan alam karya kita berkeliaran bebas, otak kita yang menata pemikiran-pemikiran yang liar tersebut menjadi alunan melodi yang enak dibaca. Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun kita hanya bisa menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa kita perlu mencarinya. Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk mempersempIt pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa pentingnya buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu tidak terlampau basi).
Setelah tema ditentukan, fokuskan pada permasalahan yang menggelitik dan layak untuk dicermati. Esai yang baik umumnya ringkas (“Less is more” kata Ernest Hemingway) dan fokus. Untuk bisa menjamin esai itu ditulis secara sederhana, ringkas tapi padat, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek. Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah(kata-kata yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.
Setelah tema kita cermati, kita perlu mengembangkan tema dalam pokok-pokok pikiran yang masih liar beterbangan ke sana kemari. Tulis saja apa yang ada di benak panjenengan (aja wedinan, aja gumunan, aja kagetan) ketika kita menemukan berbagai ide yang kontroversial. Semua gagasan yang muncul dari luapan sebuah tema, kemudian kita identifikasi, yang tidak mathuk kita buang, yang mathuk kita jadikan satu.
Terhadap yang mathuk tadi kemudian kita beri sentuhan berupa pengembangan gagasan yang lebih tajam. Jika dalam satu tema kita punya sepuluh gagasan, dan setiap gagasan kita buat satu alinea, dan setiap satu alinea kita susun sepuluh kalimat, tentu kita akan menghasilkan sebuah karya yang luar biasa. Hindari MKK (miskin kata-kata) agar uraian kita lebih berkembang.
Langkah berikutnya, kita perlu melakukan eksploitasi data dan rujukan. Tak perlu banyak berteori, namun diperlukan data yang akurat untuk mendukung gagasan kita terhadap tema yang kita tindakkritisi. Contoh: Jika kita akan mengkaji berapa jumlah mahasiswa Bahasa Jawa yang bisa nembang macapat maka kita perlu melakukan observasi intern dan ekstern sehingga kita mendapatkan data yang akurat. Kalau kita berpendapat bahwa mahasiswa bahasa Jawa IKIP PGRI Semarang lebih tertarik menonton ST-12 daripada Wayang Kulit yang kebetulan jadwalnya berbarengan, apa datanya? Yang terpenting, tak perlu takut berpendapat berbeda asal kita memiliki alasan yang didukung dengan data akurat.
Memberikan alternatif dari permasalahan yang ditelaah menjadi langkah berikutnya dalam menulis esai atau pun opini. Hal ini perlu dilakukan agar pembaca tidak memberi cap jarkoni pada penulisnya.
Ada baiknya pula kita menyimpulkan dari kajian yang dibahas, walaupun terkadang kita mendapati banyak tulisan tak ada simpulannya. Simpulan merupakan kristalisasi dari kajian yang ditindakkritisi sehingga keberadaannya akan menggiring pembaca pada ide-ide liar yang beterbangan tadi menjadi satu kesatuan yang utuh.
Langkah terakhir adalah mengedit tulisan agar tidak ada kesalahan baik ketik maupun konsep sehingga ketika naskah kita kirim ke media massa menjadi layak muat. Di sinilah sebenarnya kita bisa membuat judul yang cerdas. Menulis judul bukan merupakan hal yang mudah lantaran melalui sebuah judul orang menjadi lebih simpati dan tertarik untuk membaca. Judul merupakan aura dan pancaran sinar karya yang kita buat. Kecerdasan menulis judul bisa dilatih dengan banyak membaca, mengotik-atik kata sambung, dan memberikan apresiasi terhadap bahasa ilmiah. Anda bayangkan apa jadinya, ketika judul tulisan sederhana ini hanya “Menulis Esai dan Opini”? Tentu tidak menarik.

Sumbang Saran:
Memilih gaya penulisan membutuhkan jam terbang tersendiri. Untuk menentukan ciri khas tulisan kita, perlu berlatih dan memilih gaya penuturan yang menjadikan kita menjadi menikmati karya yang kita buat. Beberapa tema tulisan bisa lebih kuat disajikan dalam bentuk dialog. Tapi, tema yang lain mungkin lebih tepat disajikan dengan lebih banyak narasi serta deskripsi yang diperkaya dengan anekdot. Beberapa penulis memilih bentuk penuturan yang ajeg untuk setiap tema yang ditulisnya: Dialog (Umar Kayam), Reflektif (Goenawan Mohamad), Narasi (Suparta Brata, Faisal Baraas, Bondan Winarno, Ahmad Tohari), Humor/Satir (Butet Kertarajasa, Mahbub Junaedi), dan sebagainya.

Banyak cara untuk menggairahkan dan mempersiapkan kita menulis esai atau pun opini, di antaranya:
1. Merasalah “enjoy” ketika anda akan memulai menulis
2. Cermatilah fenomena actual atau “ngetrend” dalam dunia pendidikan dan cari kelemahan dari konsep tersebut.
3. Buatlah diri anda tidak percaya dengan konsep tersebut dengan cara mengkaji subtansi materi dengan kenyataan yang ada di lapangan.
4. Jangan diliputi ketakutan ketika anda mencoba mengungkap berbagai permasalahan yang mungkin muncul dalam bahasan anda.
5. Berilah solusi pemecahan masalah yang proportional sehingga karya anda menjadi cerdas dalam menelaah sebuah fenomena.
6. Belajarlah memilih dan menggunakan kata sambung yang cerdas sehingga pergantian antarkalimat dalam paragraf menarik untuk dibaca
7. Hindari penggunaan kata yang tidak efektif dan terkesan berputar-putar.
8. Lengkapi ulasan anda dengan kajian-kajian teori agar tulisan anda tampak cerdas
9. Buang jauh-jauh emosi anda ketika hendak menggeneralisasi permasalahan
10. Perkayalah diri anda dengan membaca esai/opini milik orang lain, lakukan diskusi dengan teman dekat, saudara, istri/suami, pacar untuk membaca tulisan yang sudah usai. Dengarkan komentar mereka atau kritik mereka yang paling tajam sekalipun. Mereka juga seringkali bisa membantu kita menemukan kalimat atau fakta bodoh yang perlu kita koreksi sebelum diluncurkan ke media. Sering-seringlah berkunjung ke internet. Anda akan mendapatkan apa yang diinginkan.
11. Jangan membaca ulang tulisan anda ketika baru satu paragraf, tulislah sampai selesai baru anda melakukan koreksi sehingga tulisan anda layak untuk dibaca.
12. Perkuat jaringan (link) sebagai sarana mempererat persaudaraan. Anda jangan merasa rendah diri dengan tingkat pendidikan dan status sosial.

Epilog:
Alur-alur sederhana di atas, agaknya tidak berlaku untuk penulis professional. Acapkali kita membaca tulisan orang-orang terkenal menjadi tidak paham apa yang dibicarakan atau kita kesulitan mencari pokok pikirannya. Itulah dunia kepenulisan, jika kita sudah punya nama (jeneng) maka pendapatan (jenang) akan mengalir sendirinya. Mereka (baca: para penulis professional) bisa memulai menulis dari sudut mana saja, tak harus linear layaknya panjenengan yang akan/baru berlatih menulis.
(Tak ada kebetulan, yang ada hanya makna yang belum ditemukan; Tak ada kesedihan, yang ada hanya jiwa yang sedang bertumbuh; Tak ada kekeliruan yang ada hanya pelajaran-pelajaran; Tak ada ketakutan, hanya suara guru dari dalam jiwa).

Selamat berkarya!

——————————————————————————————————————————–
Golong-gilig para dwija; Samya sengkut gya kridha mbangun nagri; Ing pe-ge-er-i satuhu; Basa jawa sinedya; Melu gladhen jurnalistik mbabar ilmu; Geguritan macapatan; Karawitan den kaudi (Pangkur)
Ngilmu iku kalakone kanthi laku; Lekase lawan kas; Tegese kas nyantosani; Setya budya pangekese dur angkara (Pocung)
Para mudha wajibmu padha estokna; Aja malang tumulih; Sinau kang giyat; Aja padha slewengan; Yen wus tamat lan mumpuni; Nulya tanjakna; Kanggo bangsa lan nagri (Durma)
Dedalane guna lawan sekti; Kudu andhap asor; Wani ngalah luhur wekasane; Tumungkula yen dipun dukani; Bapang den simpangi, Ana catur mungkur (Mijil).
Amenangi zaman edan; ewuh aya ing pambudi; Melu edan nora tahan; Yen tan melu anglakoni; Boya kaduman melik; Kaliren wekasanipun; Ndilalah kersa Allah; Beja-bejane kang lali; Luwih beja kang eling lawan waspada (Sinom)
——————————————————————————————————————————–
Nalika rembulan amung kari separo, Feb 2009
email:wisanggeni2007@yahoo.co.id
(024) 7620664 / 085740226767
——————————————————————————————————————————–


Responses

  1. makasih pak telah membuat tulisan tentang “merakit tulisan dalam bentuk esai dan opini”.
    banyak tips-tips untuk belajar menulis.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: