Oleh: trieelangsutajaya2008 | Oktober 8, 2008

Teknik Menyusun Prota dan Promes

Teknik Menyusun Program Tahunan dan Program Semester

(Sebuah Refleksi Pentingnya Perencanaan yang Berkualitas)

Oleh: Trimo, S.Pd.,M.Pd.

Pengantar:

Reparasi kurikulum secara sporadis oleh pemerintah (Depdiknas) telah membangkitkan ”emosi” guru untuk memberi komentar yang beragam. Ada yang berkomentar lantaran keperluan institusi, perkembangan ipteks, penyesuaian dengan situasi, proyek, dan ada pula yang memilih diam. Apa pun komentar teman-teman guru perlu dimaknai sebagai wujud aktualisasi diri.

Sependapat dengan J. Drost, SJ (2005:48) bahwa kurikulum-kurikulum yang ada sudah baik, namun belum meyani semua pelajar kita. Pengajaran kita tidak perlu direformasi kalau melihat masalah kurikulum. Yang amat perlu direformasi ialah birokrasi pendidikan dan pengajaran.

Konsekuensi logis dari bergulirnya kurikulum baru adalah penyesuaian perangkat pembelajaran, seperti program tahunan (Prota), program semester (Promes), silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan sejenisnya. Guru-guru pun lantas gelisah lantaran seperangkat administrasi yang sudah dikerjakan tidak bisa ”dicopy paste” untuk tahun-tahun berikutnya.

Ibarat sebuah umpan, agaknya publik sudah menangkap kegelisahan guru. Berbagai bentuk administrasi mendadak hadir mengobati kegelisahan guru. Tawaran administrasi model baru dari rekanan seolah menjadi angin segar bagi guru. Guru tinggal tanda tangan dan memberi tanda tertentu pada kolom-kolom yang sudah ada.

Memang seperangkat administrasi tersebut sangat membantu guru, apalagi guru yang hendak mengajukan kenaikan pangkat melalui penilaian angka kredit. Namun sejujurnya, instanisasi proses administrasi tersebut merupakan ”pembodohan” guru secara sistematis. Hal ini lantaran penyeragaman materi (dalam sebuah RPP contohnya) merupakan potret guru yang kurang memahami perbedaan individual (individual different) peserta didiknya. Seperti yang dikatakan Tilaar (2002) bahwa proses pendidikan yang mengabaikan proses individualisasi adalah pengungkungan atau pemenjaraan proses perkembangan manusia.

Percik pemikiran sederhana ini mencoba untuk membangkitkan kembali pemahaman kita dalam menyiapkan, merumuskan, mengkaji, dan menganalisis administrasi pembelajaran yang secara conditio sine qua non merupakan syarat utama untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna. Kajian sederhana ini difokuskan pada teknik menyusun Prota dan Promes.

Substansi:

Sebuah program bukan hanya kegiatan tunggal yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat, tetapi merupakan kegiatan yang berkesinambungan karena melaksanakan suatu kebijakan (Arikunto dan Jabar, 2004:3). Oleh karena itu penyusunan program tahuan dan program semester tentu merupakan satu sistem yang saling terkait.

Ditambahkan Uno (2007) bahwa salah satu asumsi dasar perlunya merencanakan suatu program pembelajaran adalah untuk memperbaiki kualtas pembelajaran yang bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran.

1. Konsep Dasar Program Tahunan

Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang dikembangkan oleh guru (Mulyasa, 2003:183). Dipertegas Muslich (2007:44) program tahunan adalah rencana umum pembelajaran mata pelajaran setelah diketahui kepastian jumlah jam pelajara efektif dalam satu tahun.

Program tahunan perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun pelajaran, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya, yakni program semester, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Sumber-sumber yang dapat dijadikan bahan pengembangan program tahunan antara lain:

  1. Daftar standar kompetensi sebagai konsensus nasional, yang dikembangkan dalam buku garis-garis besar program pengajaran (GBPP) setiap mata pelajaran yang akan dikembangkan.
  2. Skope dan sekuensi setiap kompetensi. Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan materi pembelajaran. Materi pembelajaran tersebut disusun dalam pokok-pokok bahasan dan sub pokok bahasan, yang mengandung ide-ide pokok sesuai dengan kompetensi dan tujuan pembelajaran. Pokok-pokok bahasan dan sub-sub pokok bahasan tersebut harus jelas skope dan sekeuensinya. Skope adalah ruang lingkup dan batasan-batasan keluasan setiap pokok dan sub pokok bahasan, sedangkan sekuensi adalah urutan logis dari setiap pokok dan sub pokok bahasan. Pengembangan skope dan sekuensi ini bisa dilakukan oleh guru, dan bisa dikembangkan dalam kelompok kerja guru (KKG). Sebagai pedoman berikut dikemukakan pendapat Sukmadinata (1988) tentang cara menyusun sekuensi bahan ajar:

1) Sekuens kronologis. Untuk menyususn bahan ajar yang mengandung urutan waktu, dapat digunnakan kronologis. Peristiwa-peristiwa sejarah, perkembangan historis suatu instusi, penemuan-penemuan ilmiah dan sebagainya dapat disusun berdasarkan sekuens kronologis.

2) Sekuens kausal. Sekuens kausal berhubungan dengan kronologis. Peserta didik dihadapkan pada peristiwa-peristiwa atau situasi yang menjadi sebab atau pendahulu daripada sesuatu peristiwa atau situasi yang menjadi sebab atau pendahulu para peserta didik akan menemukan akibatnya Menurut Rowntree (dalam Mulyasa, 2003: 96) sekuens kausal cocok untuk menyusun bahan ajar ddalam bidang meteorologi dan geomorfologi.

3) Sekuens struktural. Bagian-bagian bahan ajar sesuatu bidang studi telah mempunyai strukturnya. Dalam fisika tidak mungkin mengajarkan alat-alat optik, tanpa terlebih dahulu diajarkan pemantulan dan pembiasan cahaya. Masalah cahaya, pemantulan-pembiasan, dan alat-alat optik tersusun secara struktural.

4) Sekuens logis dan psikologis. Bahan ajar juga dapat disusun berdasarkan urutan logis. Menurut sekuens logis bahan ajar dimulai dari bagian kepada keseluruhan, dari yang sederhana kepada yang kompleks, tetapi menurut sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan kepada bagian, dari yang kompleks kepada sederhana. Menurut sekuens logis bahan ajar disusuun dari yang nyata kepada yang abstrak, dari benda-benda kepada teori, dari fungsi kepada struktur, dari masalah bagaimana kepada masalah mengapa.

5) Sekuens spiral. Dikembangkan oleh Bruner (1960). Bahan ajaran dipusatkan pada topik atau pokok bahasan tertentu. Dari yopik atau pokok bahasan tersebut bahan diperluas dan diperdalam. Topik atau pokok bahan ajaran tersebut adalah sesuatu yang populer dan sederhana, tetapi kemudian diperluas dan diperdalam dengan bahan yang lebih kompleks dan sophisticated.

6) Rangkaian ke belakang (backward chaining). Dikembangkan oleh Thomas Gilbert (1962). Dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah terakhir dan mundur ke belakang. Contoh pemecahan masalah yang bersifat ilmiah meliputi: (a) pembatasan masalah, (b) penyusun hipotesis, (c) pengumpulan data, (d) pengetesan hipotesis, dan (e) intreprestasi hasil tes. Dalam mengajar mulai dengan langkah (e), kemudian guru menyajikan data tentang sesuatu masalah dari langkah (a) sampai (d), dan peserta didik diminta untuk membuat intreprestasi hasilnya (e). pada kesempatan lain guru menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c), dan peserta didik diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d), dan seterusnya.

7) Sekuens berdasarkan hierakhi belajar. Model ini dikembangkan Gagne (1965) dengan prosedur tujuan khusus utama dianalisis, dan dicari suatu hierakhi urutan bahan ajaran untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Hierakhi tersebut menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik, berturut-turut sampai pokok-pokok bahasan tertentu hierakhi juga dapat mengikuti hierakhi tipe-tipe belajar dari Gagne. Gagne (1970) mengemukakan delapan tipe belajar yang tersusun secara hierakhis mulai dari yang paling sederhana: ”signial learning, stimulus respos learning, motor-chain leraning, verbal association, multiple discrimination, concept learning, principle learning, dan problem solving learning ”.

  1. Kalender pendidikan. Penyusun kalender pendidikan selama satu tahun pelajaran mengacu pada efisiensi, efektifitas, dan hak-hak peserta didik. Dalam kalender pembelajaran, termasuk waktu libur, dan lain-lain. Dengan demikian, dalam menyusun program tahunan perlu memperhatikan kalender pendidikan. Hari belajar efektif dalam satu tahun pelajaran dilaksanakan dengan menggunakan sistem semester (satu tahun pelajaran terdiri atas dua kelompok penyelenggara pendidikan) yang terdiri atas 34-38 minggu.

Berdasarkan sumber-sumber tersebut, dapat ditetapkan dan dikembangkan jumlah kompetensi, pokok bahasan dan waktu yang tersedia untuk menyelesaikan pokok dan sub pokok bahasan, jumlah ulangan, baik ulangan umum maupun ulangan harian, dan jumlah waktu cadangan.

Setidaknya dalam menyusun Prota, komponen yang harus ada sebagai berikut:

  1. Identitas (mata pelajaran, kelas, tahun pelajaran)
  2. Format isian (semester, standar kompetensi, kompetensi dasar, matei pokok, dan alokasi waktu).

Dalam perkembangan dan pengkajian penyusunan Prota, terdapat beragam alternatif format program tahunan. Dengan demikian guru memiliki kebebasan dalam menentukan format Prota. Format berikut ini, diadopsi dari berbagai contoh format yang pernah ada:

PROGRAM TAHUNAN

Satuan Pendidikan : ……………..

Mata Pelajaran : ……………..

Kelas : ……………..

Tahun Pelajaran : ……………..

Semester

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Alokasi

Mengetahui Semarang,………………………

Kepala Sekolah Guru Kelas….

_________________ ______________________

NIP. NIP.

Secara sederhana teknik pengisian format di atas dapat dilakukan dengan melihat kurikulum utuh yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi yang di dalamnya terdapat Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tiap mata pelajaran.

Yang tidak kalah pentingnya adalah mencermati alokasi waktu tiap mata pelajaran yang sudah diatur dalam Standar Isi khususnya dalam bab II tentang struktur kurikulum. Dari alokasi waktu tersebut bisa dilihat bahwa dalam satu tahun pelajaran jumlah minggu efektif berkisar 34-38 minggu.

Setelah mengetahui jumlah minggu efektif, langkah berikutnya adalah memetakan kompetensi dasar. Ada berapa kompetensi dasar dalam satu semester kemudian kita kaji kompetensi dasar mana yang memiliki substansi materi yang lebih berat. Hal tersebut kita lakukan untuk menentukan alokasi waktu.

Yang memerlukan pemikiran serius dalam penyusunan program tahunan adalah menentukan materi pokok. Hal ini lantaran dalam KTSP tidak terdapat materi pokok (layaknya KBK). Guru diberi kesempatan yang luas untuk mengapresiasi materi pokok dengan mengacu pada kompetensi dasar. Seperti dikatakan Trimo (2001) bahwa guru bukan tukang mengajar, guru juga bukan pawang. Tetapi, guru adalah ’koki’ dalam pembelajaran sehingga mutlak untuk meramu dan mendesain pembelajaran bermakna.

Yang terjadi di lapangan, proses penentuan materi pokok dilakukan menggunakan alur balik. Seperti mencari materi pokok dalam buku atau melihat materi pokok di KBK, baru menuliskannya dalam program tahunan. Langkah ini sebenarnya kurang efektif manakala guru akan belajar menjadi ’koki’ dalam pembelajaran.

Diskusi dengan teman sejawat dan pembahasan dalam kegiatan KKG akan membantu guru-guru dalam merumuskan materi pokok sehingga program tahunan yang dirumuskan tiap sekolah merupakan refleksi dari kebutuhan siswa. Selebihnya, program tahunan yang didesain akan memberi nuansa dan aura positif bagi pengembangan visi dan misi sekolah.

2. Konsep Dasar Program Semester

Program semester merupakan pemerian/penjabaran dari program tahunan sehingga program tersebut tidak bisa disusun sebelum tersusun program tahunan.

Program semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Pada umumnya program semester ini berisikan:

a. Identitas (satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas/semester, tahun pelajaran)

b. Format isian (standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, jumlah jam pertemuan (JJP), dan bulan).

Seperti program tahunan, program semester juga banyak alternatifnya. Berikut disajikan format program semester yang disarikan dari berbagai model yang ada:

PROGRAM SEMESTER

Satuan Pendidikan : ……………………..

Mata Pelajaran : ……………………..

Kelas/Semester : ……………………..

Tahun Pelajaran : ……………………..

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Indikator

JJP

Bulan (6bulan)

1

2

3

4

Mengetahui Semarang,………………………

Kepala Sekolah Guru Kelas….

_________________ ______________________

NIP. NIP.

Secara sederhana teknik pengisian program semester di atas juga sama seperti program tahunan. Beberapa komponen yang sudah ada dalam program tahunan tinggal memindah saja (SK, KD, Materi Pokok). Yang perlu pencermatan adalah perumusan indikator dan pemerian materi ke dalam bulan selama satu semester.

Indikator dalam program semester harus dirumuskan guru sesuai dengan karakteristik siswa. Indikator ibarat tujuan instruksional khusus (TIK) dalam pembelajaran sehingga perumusannya akan lebih efektif apabila menggunakan kata kerja operasional (KKO), seperti menjelaskan, menyebutkan, menganalisis, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan sejenisnya (selengkapnya dapat dibaca pada pengembangan indikator dalam lampiran makalah ini).

3. Strategi Implementasi

Menjadi guru SD memang harus ”survive”. Jika tidak maka segala bentuk informasi terkini hanya menjadi konsumen saja. Padahal, paradigma pembelajaran terkini sudah berubah dari proses pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai konsumen ke arah pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai produsen. Mana mungkin kita (baca:guru) dapat menjadikan siswa sebagai produsen kalau tidak memberi teladan bagaimana menjadi seorang produsen.

Secara garis besar implementai kurikulum mencakupi tiga kekuatan pokokm yaitu pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi (Susilo, 2007:176). Pengembangan program kurikulum mencakupi program tahunan, program semester, program harian, program pengayaan dan remedial, serta program bimbingan dan konseling. Pelaksanaan pembelajaran merupakan proses interaksi multiarah yang didesain guru sehingga tercipta enjoyable learning. Sedangkan evaluasi terfokus pada penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, bench marking, dan penilaian program.

Menyusun prota, promes, silabus, RPP, dan sejenisnya secara mandiri dan atau berdiskusi dengan teman sejawat merupakan langkah awal untuk ”memaksa” diri kita (baca: guru) menjadi produsen. Oleh karena itu, ada baiknya kita simak penuturan Ramli (2004) perilaku terbaik dalam pengajaran guru adalah sangunis dan melakonis, pada penggunaan masing-masing. Sedangkan perilaku lain, koleris dan plegmatis merupakan perilaku pendukung yang saling bersinergi.

Perilaku sangunis merupakan perilaku pengajaran yang memiliki sikap ramah, suka berbincang dengan siswa/murid, cerita setiap bertemu murid/siswanya, percaya diri, bersih fikirannya, cepat berpikir dan dapat diajak berdialog dengan kesetaraan, cepat berpikir dan dapat diajak berdialog dengan kesetaraan. Perilaku sangunis sangat baik digunakan guru dalam interaksi dan cara menghadapi kelas dan peserta didik.

Sedangkan perilaku melankolis adalah perilaku pengajaran yang memiliki sikap teliti, selalu mengajar dengan data dan fakta, detil daan melakukan pengajaran secara tuntas. Perilaku melankolis sangat baik digunakan guru pada saat mempersiapkan mata ajaran, modul kurikulum, menjelaskan dan menerangkan materi pelajaran kepada peserta didik.

Epilog:

Menjadi guru yang mampu berperan sebagai produsen bukan merupakan hal yang mudah lantaran seluruh cipta, rasa, dan karsa perlu bersimbiosis mutualisme, membentuk sebuah ”rantai pembelajaran” yang kokoh. Tugas-tugas merencanakan administrasi pembelajaran, di antaranya menyusun program tahunan dan program semester perlu dilakukan dalam rangka mendesain bingkai pembelajaran efektif.

Paradigma “copy paste“ administrasi pembelajaran dan menjadikan administrasi pembelajaran hanya sebagai “pelengkap penderita“ secara evolusif perlu ditinggalkan. Berlatih, belajar meramu, berdiskusi, menganalisis, dan menindakkritisi berbagai informasi dalam dunia pendidikan merupakan langkah awal untuk membekali diri menjadi guru yang memiliki kompetensi secara holistik, yakni kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial.

Semoga bermanfaat!

Pustaka Acuan:

Arikunto, Suharsimi dan Jabar, Cepi Safruddin Abdul. 2004. Evaluasi Program Pendidikan, Pedoman Teoretis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

J. Drost, SJ. 2005. Dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) sampai MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muslich, Masnur. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Dasar Pemahaman dan Pengembangan, Pedoman Bagi Pengelola Lembaga Pendidikan, Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, Komite Sekolah, Dewan Sekolah, dan Guru. Jakarta: Bumi Aksara.

Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Nomor 22 dan 23 Tahun 2006.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Ramly, A.T. 2004. Pumping Talent. Jakarta: Pustaka Inti.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 1988. Prinsip dan Landasan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: P2LPTK Depdikbud.

Susilo, Muhammad Joko. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tilaar, HAR. 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan, Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Trimo. 2001. Guru Hanya Tukang Mengajar. Tabloid Inspirator. Semarang. Edisi Maret 2001. www.pendidikannetwork.com

Uno, Hamzah B. 2007. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.


Responses

  1. Menurut saya, berbicara tentang pendidikan di negara tercinta kita Indonesia tidak akan ada habisnya, mengapa?
    Alasan yang pertama karna keadaan negara kita yang sedang berkembang dan banyaknya pengaruh-pengaruh negatif (globalisasi )yang tidak mudah untuk disaring oleh para pelajar.
    kedua..

  2. just blog walking….

    and Pak blognya udah ku link… entar kalo komment nya aneh jangan marah yah… hahah piiiiis


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: